Showing Page:
1/10
KARYA ILMIAH
EKOSISTEM
NAMA : L. Reza Adrian
NIM :F1B019080
MATA KULIAH : Lingkungan & Etika Rekayasa (B)
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTASTEKNIK
UNIVERSITAS MATARAM
2019
Showing Page:
2/10
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ekosistem perairan adalah satu kesatuan menyeluruh antara
organisme dengan lingkungannya yang saling mempengaruhi satu dengan
lain. Berdasarkan perbedaan salinitasnya, ekosistem perairan dapat
digolongkan menjadi perairan laut, perairan estuari (payau) dan perairan
tawar (Muhtadi, 2016.hlm.5). Ekosistem perairan tawar merupakan
lingkungan perairan daratan yang terletak lebih tinggi dibandingkan
permukaan laut (Utomo, 2014.hlm.18). Ekosistem perairan tawar sangatlah
tersebar di seluruh dunia, salah satunya Indonesia yang tersebar di setiap
provinsi. Indonesia merupakan wilayah yang sangat luas dimana terdapat
beberapa tipe perairan, salah satunya yaitu perairan tawar. Pada ekosistem
perairan tawar, berdasarkan tipe alirannya dibedakan menjadi dua yakni
perairan tergenang (lentik) dan perairan mengalir (lotik) (Muhtadi,
2016.hlm.7). Perairan tergenang merupakan salah satu bentuk perairan
umum yang masa airnya tenang sehingga disebut habitat lentik. Contoh
perairan tergenang adalah danau atau situ, kolam rawa, waduk, dan lain lain
(Muhtadi, 2016.hlm.8).
Danau merupakan salah satu bentuk ekosistem air tawar yang ada
di permukaan bumi. Secara umum, danau merupakan perairan umum
daratan yang memiliki fungsi penting bagi pembangunan dan kehidupan
manusia. Danau memiliki tiga fungsi utama, yaitu fungsi ekologi, budidaya
dan sosial ekonomi. Dilihat dari aspek ekologi, danau merupakan tempat
berlangsungnya siklus ekologis dari komponen air dan kehidupan akuatik di
dalamnya. Sedangkan dilihat dari aspek budidaya, masyarakat sekitar danau
sering melakukan budidaya perikanan jala apung, dan dari aspek sosial
ekonomi, danau memiliki fungsi yang secara langsung berkaitan dengan
kehidupan masyarakat sekitar danau (Wulandari, 2013.hlm.1).
Danau di Indonesia diperkirakan sebanyak 840 danau besar dan 735
danau kecil (situ) yang dapat menampung 500 km3 air atau 72% dari total
persediaan air permukaan di Indonesia. Indonesia memiliki tidak kurang
dari 500 danau alami dengan kategori besar > 50 ha dengan ciri khas sebagai
Showing Page:
3/10
“danau tropis kepulauan” memiliki luas total danau 5.000 km2 atau sekitar
0,25% luas daratan. Danau tersebut tersebar merata di setiap pulau besar
(Sumatra, Jawa, Kalimantan Sulawesi, Papua) kecuali Pulau Bali.
Sebaliknya waduk besar sebagian besar berlokasi di Pulai Jawa. Selain
kategori danau besar terdapat juga danau kecil yang jumlahnya ribuan dan
waduk kecil yang disebut embung. Danau kecil sering dikenal sebagai situ
berukuran besar. Di Provinsi Jawa Barat terdapat 354 buah situ, di Provinsi
Jawa Timur 438 buah situ. (Astrid, 2012.hlm.5).
Salah satu contoh danau yang berada di Indonesia terdapat di daerah
Jawa Barat yang merupakan danau alami. Danau alami tersebut sangatlah
tersebar di Jawa Barat salah satunya adalah situ Bagendit yang berada di
Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut. Situ Bagendit adalah salah satu
situ alami yang sumber airnya berasal dari curah hujan, saluran pembuang
daerah irigasi Ciojar dan saluran pembuang Cibuyutan selatan, serta saluran
keluar air situ Bagendit melalui Parigi. Situ Bagendit dimanfaatkan oleh
warga sekitar sebagai sarana pariwisata dan sebagai mata pencaharian dalam
bidang perikanan, seperti kegiatan penangkapan ikan, pembesaran ikan di
karamba jaring apung, dan sebagai irigasi bagi areal pesawahan. Luas situ
Bagendit ± 60 ha dan berada dalam ketinggian 800 meter di atas permukaan
laut. Kegiatan penangkapan ikan dilakukan secara rutin setiap hari, ini
mengakibatkan populasi ikan yang ada menjadi menurun. Namun, saat ini
pengelola Situ Bagendit telah melakukan upaya untuk menstabilkan
ekosistem tersebut dengan cara membuat rumpon-rumpon yang disebar di
sejumlah lokasi (Amelia, 2012.hlm.302). Pada umumnya situ Bagendit
berfungsi sebagai daerah resapan air yang airnya dapat dimanfaatkan untuk
pengairan, sebagai sumber keanekaragaman hayati, dan tempat wisata. Oleh
karena itu, pemanfaatan situ lebih bersifat multiguna. Situ Bagendit terbagi
menjadi dua wilayah yaitu Situ Bagendit 1 dan Situ Bagendit 2. Jarak antara
Situ Bagendit 1 dan Situ Bagendit 2 memiliki jarak kurang lebih 716 meter.
Situ Bagendit 2 merupakan situ alami yang dijadikan sebagai tempat
ekowisata dan pendidikan. Sebagai tempat ekowisata Situ Bagendit 2
memiliki beberapa fasilitas bagi pengunjung untuk menikmati keindahan
Showing Page:
4/10
alam yang indah dengan panorama alam pesawahan dan pegunungan di
sekeliling situ. (Disparbud, 2011). Tingginya aktifitas manusia dalam
memanfaatkan lingkungan perairan situ Bagendit dapat mengakibatkan
penurunan kualitas lingkungan perairan tersebut. Selain itu keberadaan dan
penyebaran Gastropoda juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan,
baik biotik maupun abiotik. Faktor biotik yang berpengaruh diantaranya
adalah pemangsaan dan kompetisi, kondisi linkungan, dan perubahan
lingkungan. Faktor tersebut berpengaruh terhadap total famili yang ada di
Situ Bagendit. Sedangkan faktor abiotik yaitu faktor yang mempengaruhi
kehidupan suatu ekosistem seperti intensitas cahaya, pH air, suhu, dan
Disolved Oxygen (DO). Maka dari itu di butuhkan beberapa data organisme
yang berada di Situ Bagendit 2 untuk menunjang pendidikan salah satunya
adalah data spesies Gastropoda.
Showing Page:
5/10
PEMBAHASAN
A. Ekosistem
Tingkat organisasi yang lebih tinggi dari komunitas adalah ekosistem. Tidak
hanya mencakup serangkaian spesies tumbuhan saja, tetapi juga segala
bentuk materi yang melakukan siklus dalam sistem itu, dan energi yang
menjadi sumber kekuatan bagi ekosistem. Sinar matahari merupakan sumber
energi dalam sebuah ekosistem, yang oleh tumbuhan dapat diubah menjadi
energi kimia melalui proses fotosintesis. Kemampuan tumbuhan menyerap
berbagai bahan mineral dari tanah, yang seterusnya diolah dalam proses
metabolisme. Semua jaringan hidup, baik hewan maupun tumbuhan akan
mati, jatuh ketanah sebagai sampah, dan menajadi bahan makanan bagi
aneka ragam mikroba tanah. Jadi dalam tanah itu dapat juga dijumpai dua
jenis mikroba, yaitu mikroba pembusuk dan mikroba pengurai.
B. Komponen Penyusun Ekosistem
a. Komponen Abiotik
Komponen abiotik merupakan sekelompok benda tak hidup baik secara
kimia ataupun fisik yang menjadi medium atau tempat hidup dalam suatu
ekosistem. Komponen abiotik dapat berupa senyawa organik, senyawa
anorganik, dan faktor-faktor memengaruhi distribusi organisme.
1. Air
Air merupakan faktor abiotik yang sangat penting untuk menunjang suatu
kehidupan. Hampir semua makhluk hidup membutuhkan air. Kurang
lebih 80-90% tubuh makhluk hidup tersusun dari air. Zat ini digunakan
sebagai pelarut di dalam sitoplasma untuk menjaga tekanan osmosis sel,
dan mencegah sel dari kekeringan.
2. Udara
Hewan dan manusia menggunakan oksigen yang terdapat diudara untuk
bernapas dan mengeluarkan karbon dioksida (CO2) ke Udara.
Tumbuhan mengambil karbon dioksida dari udara untuk proses
fotosintesis dan menghasilkan oksigen sebagai sebagai produk
sampingnya.
3. Cahaya matahari
Tumbuhan dapat melangsungkan proses fotosintesis karena adanya
cahaya matahari. Proses fotosintesis menghasilkan bahan organik yang
akan dimanfaatkan oleh tumbuhan itu sendiri, hewan, dan manusia
sebagai sumber makanannya.
Showing Page:
6/10
4. Tanah
Tanah berfungsi sebagai tempat hidup sekaligus tempat berpijak
berbagai makluk hidup dalam suatu ekosistem.
5. Topografi
Adalah suatu letak suatu tempat dipandang dari ketinggian di atas
permukaan laut atau dipandang dari garis bujur dan garis lintang.
Topografi yang berbeda mengakibatkan perbedaan penerimaan
intensitas cahaya, kelembapan. Tekanan udara, dan suhu udara. Oleh
karena itu, topografi mempunyai pengaruh yang besar terhadap
distribusi makhluk hidup terutama tumbuhan.
6. Iklim
Merupakan keadaan cuaca rata-rata disuatu tempat yang luas dalam
waktu yang lama (sekitar 30 tahun) yang terbentuk oleh interaksi sebagai
komponen abiotic seperti kelembapan udara, suhu, curah hujan, dan
cahaya matahari.
7. pH (derajat keasaman)
pH biasa digunakan untuk menggambarkan derajat keasaaman atau
kebasaan suatu tanah atau air.
b. Komponen Biotik
Komponen biotik terdiri atas semua jenis makhluk hidup. Menurut
peran dan fungsinya, komponen biotik dapat dibedakan menjadi
prosusen, konsumen, dan pengurai.
C. Fungsi Komponen-Komponen ekosistem
Fungsi komponen ekosistem dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
a. Autortrofik : auto berarti sendiri, trofik berarti menyediakan makanan,
jadi berarti organisme yang dapat mengintensiskan makanannya
sendiri atau dapat menyediakan makanannya sendiri.
b. Heterotrofik : organisme yang hanya dapat memanfaatkan bahan
makanan yang disediakan oleh organisme lain.
D. Ekologi Sebagai Dasar Ilmu Lingkungan
Ekologi merupakan salah satu ilmu dasar bagi ilmu lingkungan.
a. Individu
Individu ialah suatu struktur yang membangun suatu kehidupan
Showing Page:
7/10
dalam bentuk makhluk. Misalnya: pohon jambu, pohon pisang, jahe,
rumput, dan sebagainya. Setiap pohon disebut individu. Dengan
demikian kita katakana: individu pisang, individu jambu, individu
jahe, dan sebagainya.
b. Populasi
Populasi adalah kumpulan individu sebuah species, yang mempunyai
potensi untuk berbiak silang antar satu individu dengan individu lain.
Misalnya: meskipun banteng Ujung Kulon dan banteng di Penanjung
Pengandaran, Baluran (Jatim), sama speciesnya yaitu Bos Javanicus,
jadi karena potensinya untuk berbiak silang dihalangi oleh jarak yang
jauh, tiga kumpulan banteng itu merupakan tiga populasi.
c. Komunitas
Komunitas ialah beberapa kelompok makhluk yang hidup bersama-sama
dalam suatu tempat yang bersamaan. Misalnya: populasi semut, populasi
kutu daun dan pohon tempat mereka hidup membentuk suatu masyarakat
atau suatu komunitas.
d. Ekosistem
Ekosistem merupakan interaksi anatara makhluk hidup dengan
lingkungan abiotiknya. Interaksi makhluk hidup dengan
lingkungannya bersifat khusus. Jadi, setiap lingkungan memiliki
ekosistem yang berbeda.
Berdasarkan proses terbentuknya ekosistem dibedakan menjadi dua, yaitu:
1) Ekosistem alami, yaitu ekosistem yang trebentuk secara alami. Misal:
ekosistem hutan, laut, sungai, dan rawa.
Berbagai bentuk ekosistem alami, antara lain:
1. Ekosistem darat
2. Ekosistem air tawar (danau dan sungai), terbagi menurut kedalamannya:
Zona tepi/z. Litoral, paling kaya penghuni di tepi terdapat pohon
yang akarnya mencapai dasar tepi danau, tumbuhan leli dan paku
yang mengapung. Hewannya: arthropoda, larva nyamuk, cacing,
katak, dan ular
Zona tengah/z. Limnetik, masih bisa ditembus matahari, terdapat
fitoplankton, ikan karnivor, ikan herbivor dan ular.
Zona dasar/z. Profundal terdapat di bawah z. Tengah , hanya
terdapat jamur, bacteri pengurai, dan ikan pemakan sisa
organisme mati.
Showing Page:
8/10
3. Danau merupakan suatu badan air yang menggenang dan luasnya
mulai dari beberapa meter persegi hingga ratusan meter persegi.
4. Ekosistem air laut (estuari, pesisir dan lautan). Zona laut berdasarkan
kedalamannya terbagi atas:
Daerah litoral: daerah yang berbatasan dengan darat
Daerah neritik, dalamnya ± 200m dpl.
Daerah batial, dalamnya 200-1500m dpl. Daerah ini masih dapat
ditembus sinar matahari (daerah fotik)
Daerah abisal, daerah yang kedalamannya lebih dari 1500m
dan tidak dapat ditembus cahaya matahari (daerah afotik).
2) Ekosistem buatan, yaitu ekosistem yang dibentuk secara sengaja oleh
manusia. Misal: ekosistem sawah, kolam, dan kebun.
1. Bioma
Bioma adalah sistem ekosistem-ekosistem yang terbentuk karena
perbedaan letak geografis dan astronomi. Misalnya bioma hutan
hujan tropis.
2. Biosfer
Biosfer adalah sistem ekologis global yang menyatukan seluruh
makhluk hidup dan hubungan antar mereka, termasuk interaksinya
dengan unsur litosfer (batuan), hidrosfer (air), dan atmosfer (udara)
bumi.
E. Interaksi Antar Komponen Biotik yang Terjadi dalam Ekosistem
a. Hubungan Netral
Merupakan hubungan yang tidak saling mempengaruhi.
b. Hubungan Simbiosis
Yaitu hubungan sangat erat antara dua jenis organisme yang hidup saling
berdampingan.
Simbiosis Mutualisme
Yaitu hubungan antara dua jenis organisme yang saling
menguntungkan. Misalnya interaksi antara jamur dengan akar
tumbuhan yang membentuk mikoriza.
Simbiosis Komensalisme
Yaitu hubungan antara dua jenis organisme yang menguntungkan salah
Showing Page:
9/10
satu organisme, tetapi organisme yang lain tidak diuntungkan dan
dirugikan. Misalnya interaksi antara ikan hiu dan ikan remora.
Simbiosis Parasitisme
Yaitu hubungan antara dua jenis organisme yang merugikan salah
satu pihak, sedangkan pihak yang lain diuntungkan. Misalnya
interaksi antara cacing perut dan Manusia.
c. Hubungan Kompetisi
Merupakan jenis interaksi antar organisme yang saling bersaing
karena memiliki hubungan yang sama, misalnya kompetisi beberapa
jenis burung di hutan yang memakan jenis serangga yang sama.
d. Hubungan Predasi
Yaitu hubungan antara organisme yang memangsa dengan organisme
yang dimangsa, misal antara hubungan harimau dengan rusa.
Showing Page:
10/10
DAFTAR PUSTAKA
Hariwijaya Soewandi, dkk,Ilmu Alamiah Dasar, Jakarta: Ghalia Indonesia
http://nurilmiyati-iad.blogspot.co.id/2011/03/5-makhluk-hidup-dalam-ekosistem-
alami.html
http://vieta-account.blogspot.co.id/2012/07/iad-makhluk-hidup-dalam-ekosistem-
alami.html
http://Global.blogspot.co.id
Maskoeri Jasin,Ilmu Alamiah Dasar, Jakarta: PT Raja Grafindo, 1995
Muhammad Lutfhi Hidayat, Dewi Retnaningrati,Biologi, Klaten: PT Intan Pariwira

Unformatted Attachment Preview

KARYA ILMIAH EKOSISTEM NAMA : L. Reza Adrian NIM :F1B019080 MATA KULIAH : Lingkungan & Etika Rekayasa (B) JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTASTEKNIK UNIVERSITAS MATARAM 2019 PENDAHULUAN Latar Belakang Ekosistem perairan adalah satu kesatuan menyeluruh antara organisme dengan lingkungannya yang saling mempengaruhi satu dengan lain. Berdasarkan perbedaan salinitasnya, ekosistem perairan dapat digolongkan menjadi perairan laut, perairan estuari (payau) dan perairan tawar (Muhtadi, 2016.hlm.5). Ekosistem perairan tawar merupakan lingkungan perairan daratan yang terletak lebih tinggi dibandingkan permukaan laut (Utomo, 2014.hlm.18). Ekosistem perairan tawar sangatlah tersebar di seluruh dunia, salah satunya Indonesia yang tersebar di setiap provinsi. Indonesia merupakan wilayah yang sangat luas dimana terdapat beberapa tipe perairan, salah satunya yaitu perairan tawar. Pada ekosistem perairan tawar, berdasarkan tipe alirannya dibedakan menjadi dua yakni perairan tergenang (lentik) dan perairan mengalir (lotik) (Muhtadi, 2016.hlm.7). Perairan tergenang merupakan salah satu bentuk perairan umum yang masa airnya tenang sehingga disebut habitat lentik. Contoh perairan tergenang adalah danau atau situ, kolam rawa, waduk, dan lain lain (Muhtadi, 2016.hlm.8). Danau merupakan salah satu bentuk ekosistem air tawar yang ada di permukaan bumi. Secara umum, danau merupakan perairan umum daratan yang memiliki fungsi penting bagi pembangunan dan kehidupan manusia. Danau memiliki tiga fungsi utama, yaitu fungsi ekologi, budidaya dan sosial ekonomi. Dilihat dari aspek ekologi, danau merupakan tempat berlangsungnya siklus ekologis dari komponen air dan kehidupan akuatik di dalamnya. Sedangkan dilihat dari aspek budidaya, masyarakat sekitar danau sering melakukan budidaya perikanan jala apung, dan dari aspek sosial ekonomi, danau memiliki fungsi yang secara langsung berkaitan dengan kehidupan masyarakat sekitar danau (Wulandari, 2013.hlm.1). Danau di Indonesia diperkirakan sebanyak 840 danau besar dan 735 danau kecil (situ) yang dapat menampung 500 km3 air atau 72% dari total persediaan air permukaan di Indonesia. Indonesia memiliki tidak kurang dari 500 danau alami dengan kategori besar > 50 ha dengan ciri khas sebagai “danau tropis kepulauan” memiliki luas total danau 5.000 km2 atau sekitar 0,25% luas daratan. Danau tersebut tersebar merata di setiap pulau besar (Sumatra, Jawa, Kalimantan Sulawesi, Papua) kecuali Pulau Bali. Sebaliknya waduk besar sebagian besar berlokasi di Pulai Jawa. Selain kategori danau besar terdapat juga danau kecil yang jumlahnya ribuan dan waduk kecil yang disebut embung. Danau kecil sering dikenal sebagai situ berukuran besar. Di Provinsi Jawa Barat terdapat 354 buah situ, di Provinsi Jawa Timur 438 buah situ. (Astrid, 2012.hlm.5). Salah satu contoh danau yang berada di Indonesia terdapat di daerah Jawa Barat yang merupakan danau alami. Danau alami tersebut sangatlah tersebar di Jawa Barat salah satunya adalah situ Bagendit yang berada di Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut. Situ Bagendit adalah salah satu situ alami yang sumber airnya berasal dari curah hujan, saluran pembuang daerah irigasi Ciojar dan saluran pembuang Cibuyutan selatan, serta saluran keluar air situ Bagendit melalui Parigi. Situ Bagendit dimanfaatkan oleh warga sekitar sebagai sarana pariwisata dan sebagai mata pencaharian dalam bidang perikanan, seperti kegiatan penangkapan ikan, pembesaran ikan di karamba jaring apung, dan sebagai irigasi bagi areal pesawahan. Luas situ Bagendit ± 60 ha dan berada dalam ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Kegiatan penangkapan ikan dilakukan secara rutin setiap hari, ini mengakibatkan populasi ikan yang ada menjadi menurun. Namun, saat ini pengelola Situ Bagendit telah melakukan upaya untuk menstabilkan ekosistem tersebut dengan cara membuat rumpon-rumpon yang disebar di sejumlah lokasi (Amelia, 2012.hlm.302). Pada umumnya situ Bagendit berfungsi sebagai daerah resapan air yang airnya dapat dimanfaatkan untuk pengairan, sebagai sumber keanekaragaman hayati, dan tempat wisata. Oleh karena itu, pemanfaatan situ lebih bersifat multiguna. Situ Bagendit terbagi menjadi dua wilayah yaitu Situ Bagendit 1 dan Situ Bagendit 2. Jarak antara Situ Bagendit 1 dan Situ Bagendit 2 memiliki jarak kurang lebih 716 meter. Situ Bagendit 2 merupakan situ alami yang dijadikan sebagai tempat ekowisata dan pendidikan. Sebagai tempat ekowisata Situ Bagendit 2 memiliki beberapa fasilitas bagi pengunjung untuk menikmati keindahan alam yang indah dengan panorama alam pesawahan dan pegunungan di sekeliling situ. (Disparbud, 2011). Tingginya aktifitas manusia dalam memanfaatkan lingkungan perairan situ Bagendit dapat mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan perairan tersebut. Selain itu keberadaan dan penyebaran Gastropoda juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Faktor biotik yang berpengaruh diantaranya adalah pemangsaan dan kompetisi, kondisi linkungan, dan perubahan lingkungan. Faktor tersebut berpengaruh terhadap total famili yang ada di Situ Bagendit. Sedangkan faktor abiotik yaitu faktor yang mempengaruhi kehidupan suatu ekosistem seperti intensitas cahaya, pH air, suhu, dan Disolved Oxygen (DO). Maka dari itu di butuhkan beberapa data organisme yang berada di Situ Bagendit 2 untuk menunjang pendidikan salah satunya adalah data spesies Gastropoda. PEMBAHASAN A. Ekosistem Tingkat organisasi yang lebih tinggi dari komunitas adalah ekosistem. Tidak hanya mencakup serangkaian spesies tumbuhan saja, tetapi juga segala bentuk materi yang melakukan siklus dalam sistem itu, dan energi yang menjadi sumber kekuatan bagi ekosistem. Sinar matahari merupakan sumber energi dalam sebuah ekosistem, yang oleh tumbuhan dapat diubah menjadi energi kimia melalui proses fotosintesis. Kemampuan tumbuhan menyerap berbagai bahan mineral dari tanah, yang seterusnya diolah dalam proses metabolisme. Semua jaringan hidup, baik hewan maupun tumbuhan akan mati, jatuh ketanah sebagai sampah, dan menajadi bahan makanan bagi aneka ragam mikroba tanah. Jadi dalam tanah itu dapat juga dijumpai dua jenis mikroba, yaitu mikroba pembusuk dan mikroba pengurai. B. Komponen Penyusun Ekosistem a. Komponen Abiotik Komponen abiotik merupakan sekelompok benda tak hidup baik secara kimia ataupun fisik yang menjadi medium atau tempat hidup dalam suatu ekosistem. Komponen abiotik dapat berupa senyawa organik, senyawa anorganik, dan faktor-faktor memengaruhi distribusi organisme. 1. Air Air merupakan faktor abiotik yang sangat penting untuk menunjang suatu kehidupan. Hampir semua makhluk hidup membutuhkan air. Kurang lebih 80-90% tubuh makhluk hidup tersusun dari air. Zat ini digunakan sebagai pelarut di dalam sitoplasma untuk menjaga tekanan osmosis sel, dan mencegah sel dari kekeringan. 2. Udara Hewan dan manusia menggunakan oksigen yang terdapat diudara untuk bernapas dan mengeluarkan karbon dioksida (CO2) ke Udara. Tumbuhan mengambil karbon dioksida dari udara untuk proses fotosintesis dan menghasilkan oksigen sebagai sebagai produk sampingnya. 3. Cahaya matahari Tumbuhan dapat melangsungkan proses fotosintesis karena adanya cahaya matahari. Proses fotosintesis menghasilkan bahan organik yang akan dimanfaatkan oleh tumbuhan itu sendiri, hewan, dan manusia sebagai sumber makanannya. 4. Tanah Tanah berfungsi sebagai tempat hidup sekaligus tempat berpijak berbagai makluk hidup dalam suatu ekosistem. 5. Topografi Adalah suatu letak suatu tempat dipandang dari ketinggian di atas permukaan laut atau dipandang dari garis bujur dan garis lintang. Topografi yang berbeda mengakibatkan perbedaan penerimaan intensitas cahaya, kelembapan. Tekanan udara, dan suhu udara. Oleh karena itu, topografi mempunyai pengaruh yang besar terhadap distribusi makhluk hidup terutama tumbuhan. 6. Iklim Merupakan keadaan cuaca rata-rata disuatu tempat yang luas dalam waktu yang lama (sekitar 30 tahun) yang terbentuk oleh interaksi sebagai komponen abiotic seperti kelembapan udara, suhu, curah hujan, dan cahaya matahari. 7. pH (derajat keasaman) pH biasa digunakan untuk menggambarkan derajat keasaaman atau kebasaan suatu tanah atau air. b. Komponen Biotik Komponen biotik terdiri atas semua jenis makhluk hidup. Menurut peran dan fungsinya, komponen biotik dapat dibedakan menjadi prosusen, konsumen, dan pengurai. C. Fungsi Komponen-Komponen ekosistem Fungsi komponen ekosistem dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: a. Autortrofik : auto berarti sendiri, trofik berarti menyediakan makanan, jadi berarti organisme yang dapat mengintensiskan makanannya sendiri atau dapat menyediakan makanannya sendiri. b. Heterotrofik : organisme yang hanya dapat memanfaatkan bahan makanan yang disediakan oleh organisme lain. D. Ekologi Sebagai Dasar Ilmu Lingkungan Ekologi merupakan salah satu ilmu dasar bagi ilmu lingkungan. a. Individu Individu ialah suatu struktur yang membangun suatu kehidupan dalam bentuk makhluk. Misalnya: pohon jambu, pohon pisang, jahe, rumput, dan sebagainya. Setiap pohon disebut individu. Dengan demikian kita katakana: individu pisang, individu jambu, individu jahe, dan sebagainya. b. Populasi Populasi adalah kumpulan individu sebuah species, yang mempunyai potensi untuk berbiak silang antar satu individu dengan individu lain. Misalnya: meskipun banteng Ujung Kulon dan banteng di Penanjung Pengandaran, Baluran (Jatim), sama speciesnya yaitu Bos Javanicus, jadi karena potensinya untuk berbiak silang dihalangi oleh jarak yang jauh, tiga kumpulan banteng itu merupakan tiga populasi. c. Komunitas Komunitas ialah beberapa kelompok makhluk yang hidup bersama-sama dalam suatu tempat yang bersamaan. Misalnya: populasi semut, populasi kutu daun dan pohon tempat mereka hidup membentuk suatu masyarakat atau suatu komunitas. d. Ekosistem Ekosistem merupakan interaksi anatara makhluk hidup dengan lingkungan abiotiknya. Interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya bersifat khusus. Jadi, setiap lingkungan memiliki ekosistem yang berbeda. Berdasarkan proses terbentuknya ekosistem dibedakan menjadi dua, yaitu: 1) Ekosistem alami, yaitu ekosistem yang trebentuk secara alami. Misal: ekosistem hutan, laut, sungai, dan rawa. Berbagai bentuk ekosistem alami, antara lain: 1. Ekosistem darat 2. Ekosistem air tawar (danau dan sungai), terbagi menurut kedalamannya: • Zona tepi/z. Litoral, paling kaya penghuni di tepi terdapat pohon yang akarnya mencapai dasar tepi danau, tumbuhan leli dan paku yang mengapung. Hewannya: arthropoda, larva nyamuk, cacing, katak, dan ular • Zona tengah/z. Limnetik, masih bisa ditembus matahari, terdapat fitoplankton, ikan karnivor, ikan herbivor dan ular. • Zona dasar/z. Profundal terdapat di bawah z. Tengah , hanya terdapat jamur, bacteri pengurai, dan ikan pemakan sisa organisme mati. 3. Danau merupakan suatu badan air yang menggenang dan luasnya mulai dari beberapa meter persegi hingga ratusan meter persegi. 4. Ekosistem air laut (estuari, pesisir dan lautan). Zona laut berdasarkan kedalamannya terbagi atas: • Daerah litoral: daerah yang berbatasan dengan darat • Daerah neritik, dalamnya ± 200m dpl. • Daerah batial, dalamnya 200-1500m dpl. Daerah ini masih dapat ditembus sinar matahari (daerah fotik) • Daerah abisal, daerah yang kedalamannya lebih dari 1500m dan tidak dapat ditembus cahaya matahari (daerah afotik). 2) Ekosistem buatan, yaitu ekosistem yang dibentuk secara sengaja oleh manusia. Misal: ekosistem sawah, kolam, dan kebun. 1. Bioma Bioma adalah sistem ekosistem-ekosistem yang terbentuk karena perbedaan letak geografis dan astronomi. Misalnya bioma hutan hujan tropis. 2. Biosfer Biosfer adalah sistem ekologis global yang menyatukan seluruh makhluk hidup dan hubungan antar mereka, termasuk interaksinya dengan unsur litosfer (batuan), hidrosfer (air), dan atmosfer (udara) bumi. E. Interaksi Antar Komponen Biotik yang Terjadi dalam Ekosistem a. Hubungan Netral Merupakan hubungan yang tidak saling mempengaruhi. b. Hubungan Simbiosis Yaitu hubungan sangat erat antara dua jenis organisme yang hidup saling berdampingan. • Simbiosis Mutualisme Yaitu hubungan antara dua jenis organisme yang saling menguntungkan. Misalnya interaksi antara jamur dengan akar tumbuhan yang membentuk mikoriza. • Simbiosis Komensalisme Yaitu hubungan antara dua jenis organisme yang menguntungkan salah satu organisme, tetapi organisme yang lain tidak diuntungkan dan dirugikan. Misalnya interaksi antara ikan hiu dan ikan remora. • Simbiosis Parasitisme Yaitu hubungan antara dua jenis organisme yang merugikan salah satu pihak, sedangkan pihak yang lain diuntungkan. Misalnya interaksi antara cacing perut dan Manusia. c. Hubungan Kompetisi Merupakan jenis interaksi antar organisme yang saling bersaing karena memiliki hubungan yang sama, misalnya kompetisi beberapa jenis burung di hutan yang memakan jenis serangga yang sama. d. Hubungan Predasi Yaitu hubungan antara organisme yang memangsa dengan organisme yang dimangsa, misal antara hubungan harimau dengan rusa. DAFTAR PUSTAKA Hariwijaya Soewandi, dkk,Ilmu Alamiah Dasar, Jakarta: Ghalia Indonesia http://nurilmiyati-iad.blogspot.co.id/2011/03/5-makhluk-hidup-dalam-ekosistemalami.html http://vieta-account.blogspot.co.id/2012/07/iad-makhluk-hidup-dalam-ekosistemalami.html http://Global.blogspot.co.id Maskoeri Jasin,Ilmu Alamiah Dasar, Jakarta: PT Raja Grafindo, 1995 Muhammad Lutfhi Hidayat, Dewi Retnaningrati,Biologi, Klaten: PT Intan Pariwira Name: Description: ...
User generated content is uploaded by users for the purposes of learning and should be used following Studypool's honor code & terms of service.
Studypool
4.7
Trustpilot
4.5
Sitejabber
4.4