Showing Page:
1/29
1
Pengantar Pengelolaan DAS
Showing Page:
2/29
2
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI .............................................................................................................................. 2
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................................. 3
BAB I ......................................................................................................................................... 4
PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 4
1.1. Latar Belakang ............................................................................................................ 4
1.2. Kondisi Umum Permasalahan ..................................................................................... 4
1.3. Rumusan Masalah ....................................................................................................... 5
1.4. Dampak Permasalahan ................................................................................................ 5
BAB II ........................................................................................................................................ 7
PERMASALAHAN DAN KARAKTERISTIK KERUSAKAN LAHAN ............................... 7
2.1 Factor penyebab masalah Erosi Tanah pada lereng Air ................................................... 7
2.2. Solusi dan Metode Yang Diterapkan ............................................................................... 9
BAB III .................................................................................................................................... 12
REKOMENDASI STRATEGI KONSERVASI TANAH DAN AIR ..................................... 12
BAB IV .................................................................................................................................... 17
KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................................................ 17
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 18
Showing Page:
3/29
3
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Erosi Tanah pada Lereng Sungai ............................................................................. 8
Gambar 2. Terasering Kredit ................................................................................................... 13
Gambar 3. Terasering Kebun ................................................................................................... 14
Gambar 4. Terasering Datar ..................................................................................................... 14
Gambar 5. Teras Bangku ......................................................................................................... 15
Gambar 6. Teras Gulud ............................................................................................................ 16
Showing Page:
4/29
4
BAB I
1.1.
Latar Belakang
PENDAHULUAN
DAS (Daerah aliran sungai) merupakan suatu wilayah daratan yang
merupakan satu kesatuan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi
menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau
atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografi dan batas
laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan (UU No
7 tahun 2004). Peraturan Pemerintah No 37 tahun 2012 menyatakan bahwa
pengelolaan DAS merupakan upaya manusia dalam mengatur hubungan timbal balik
antara sumber daya alam dengan manusia di dalam DAS dan segala aktifitasnya, agar
terwujud kelestarian dan keserasian ekosistem serta meningkatnya kemanfaatan
sumberdaya alam bagi manusia secara berkelanjutan. Pengelolaan DAS bertujuan
untuk mencegah kerusakan dan memperbaiki yang rusak pada DAS.
Faktor manusia dan faktor alam merupakan faktor yang mempengaruhi
kerusakan DAS. Faktor alam merupakan faktor yang disebabkan oleh alam, dapat
berupa terjadinya bencana alam seperti gunung meletus dan tanah longsor, sedangkan
faktor manusia merupakan faktor yang berasal dari manusia, manusia merupakan
faktor yang sangat berpengaruh terhadap ekosistem DAS. Kegiatankegiatan manusia
dalam memanfaatkan lahan DAS seringkali melampaui batas. Kegiatankegiatan
manusia yang dapat mengganggu fungsi DAS adalah penebangan pohon yang
berlebihan atau penggundulan hutan, pembangunan pemukiman, alih fungsi lahan
hutan menjadi lahan perkebunan dan lahan pertanian. Pertumbuhan jumlah penduduk
juga mempengaruhi penggunaan lahan. Pertumbuhan penduduk yang semakin hari
semakin meningkat menyebabkan meningkatnya kebutuhan lahan sebagai sarana
bermukim. Kebutuhan akan lahan sebagai sarana bermukim penduduk menjadi
kebutuhan yang vital untuk saat ini. Kegiatan pembangunan yang dilakukan manusia
seringkali tidak memperhatikan.
Tanah yang tererosi diangkut oleh aliran permukaan yang akan diendapkan
pada tempat-tempat aliran air yang melambat seperti sungai, saluran-saluran irigasi,
waduk, danau atau muara sungai. Hal ini berakibat langsung pada mendangkalnya
sungai sehingga mengakibatkan semakin seringnya terjadi banjir dalam musim
Showing Page:
5/29
5
penghujan selanjutnya timbul lah kekeringan pada musim kemarau. Erosi adalah satu
proses dalam DAS yang terjadi berdasarkan ketidaksesuaiaan pemanfaatan lahan
dengan kemampuan lahan. Selain itu, erosi juga merupakan salah satu indikasi dalam
menentukan kekritisan suatu DAS. Besarnya erosi dan sedimentasi dari tahun ke
tahun akan semakin bertambah apabila tidak dilakukan pengendalian ataupun
pencegahan. Upaya-upaya antisipasi kejadian longsor dapat dimulai dengan
melakukan identifikasi daerah rawan longsor, melakukan pemetaan daerah-daerah
rawan longsor, menyusun rencana tindak penanggulangan longsor dan
implementasinya di daerah-daerah rawan longsor. Penanggulangan longsor pada
dasarnya adalah pengendalian tata ruang dan penggunaan lahan serta penguatan
tebing pada kawasan-kawasan yang rentan terhadap bahaya longsor.
1.2.
Kondisi Umum Permasalahan
Lahan merupakan sumber daya pembangunan yang mempunyai ciri
ketersediaan ataupun luasnya relatif senantiasa sebab pergantian luas akibat proses
Showing Page:
6/29
6
natural (sedimentasi) serta proses artifisial (reklamasi) sangat kecil. Sektor kehutanan
mendefinisikan lahan terdegradasi sebagai lahan yang keadaan fisiknya sedemikian
rupa sehingga lahan tersebut tidak berfungsi sesuai dengan peruntukannya sebagai
media produksi maupun sebagai media tata air (Kemenhut 52/Kpts-II/2001).
Pembangunan lahan di Indonesia dalam sebagian dekade terakhir sudah
tingkatkan perekonomian serta kesejahteraan warga. Tetapi, di sebagian wilayah
sudah berakibat terhadap pergantian ataupun penyusutan mutu (degradasi) sumber
daya lahan. Kecenderungan penyusutan (degradasi) sumber daya lahan hendak terus
menjadi bertambah, selaku akibat perkembangan penduduk. Spesialnya di kawasan
budidaya pertanian, lahan terdegradasi serta jadi kritis (rusak, tandus, gundul, serta
biasanya ditumbuhi semak belukar). Lahan terdegradasi tak hanya menjadikan lahan
menjadi tidak produktif, namun dapat juga jadi sumber musibah, mulai dari
kekeringan, banjir, tanah longsor, hingga kebakaran yang dapat berakibat terhadap
terbentuknya percepatan pemanasan global. Pada dasarnya degradasi lahan
diakibatkan sebab terdapatnya pemakaian serta/ ataupun pengelolaan lahan yang
kurang pas. Degradasi lahan umumnya diawali dengan terdapatnya konversi (alih
guna) pemakaian lahan, pada lahan pertanian (spesialnya pertanian di lahan kering),
degradasi lahan utamanya terjalin sebab terdapatnya erosi tanah yang dipercepat,
pemakaian mesin- mesin pertanian, serta konsumsi bahan kimia pertanian yang
kelewatan.
1.3.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana kondisi lahan dari kerusakan lahan yang terjadi?
2. Apa penyebab terjadinya erosi tanah pada lahan?
3. Bagaimana rekomendasi strategi dalam menanggapi permasalahan tersebut?
1.4.
Dampak Permasalahan
Erosi menyebabkan hilangnya lapisan tanah yang subur dan baik untuk pertumbuhan
tanaman serta berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air.
Tanah yang terangkut tersebut akan terbawa masuk ke sumber air (sedimen) dan akan
diendapkan di tempat yang aliran airnya melambat di dalam sungai, waduk, danau,
reservoir, saluran irigasi, di atas pertanian dan sebagainya. Dengan demikian,
kerusakan yang ditimbulkan oleh peristiwa erosi terjadi di dua tempat, yaitu pada
tanah tempat erosi terjadi, dan pada tempat tujuan akhir tanah yang terangkut tersebut
diendapkan. Kerusakan yang disebabkan erosi tidak hanya dirasakan pada bagian hulu
Showing Page:
7/29
7
(on site) saja. Akan tetapi, juga berpengaruh di bagian hilir (off site) dari suatu DAS.
Kerusakan di hulu menyebabkan penurunan kesuburan tanah dan berpengaruh
terhadap kemunduran produktivitas tanah atau meluasnya lahan kritis. Pada bagian
hilir kerusakan diakibatkan oleh sedimentasi yang menyebabkan pendangkalan
saluran air dan sungai dan berakibat terjadinya banjir di musim penghujan, dan terjadi
kekeringan di musim kemarau. Demikian pula sektor pembangunan lainnya, seperti
pembangunan jaringan jalan, pertambangan, pertanian, imigrasi, dan permukiman,
telah tergerus permukaannya.
Erosi merupakan penyebab hilangnya lapisan tanah yang subur bagi
pertumbuhan tanaman dan mengurangi keefektifan tanah dalam menyerap dan
menahan air. Tanah yang telah terangkut akan dibawa ke sumber air (sedimen) dan
diendapkan di sungai, waduk, danau, saluran irigasi, pertanian, dan tempat-tempat lain
yang aliran airnya berjalan lambat. Maka dari itu, kerusakan akibat peristiwa erosi
terjadi di dua tempat, yaitu tanah tempat terjadinya erosi, dan tempat tujuan akhir dari
endapan tanah yang terangkut. Adapun kegiatan yang berhubungan lamgsung
terhadap perubahan faktor-faktor yang mempengaruhi erosi, seperti perubahan
tutupan lahan akibat deforestasi atau deforestasi untuk pemukiman, lahan pertanian
atau penggembalaan. Perubahan mikrotopografi terjadi karena
Showing Page:
8/29
8
penerapan terasering, pertanian untuk menggemburkan tanah, dan penggunaan bahan
penstabil dan pemupukan yang mempengaruhi struktur tanah. Kegiatan bercocok
tanam yang terbiasa membakar areal tanam secara berulang akan merusak permukaan
tanah, menyebabkan hilangnya bahan organik dan erosi tanah. Kegiatan pengelolaan
hutan, seperti penebangan, peningkatan kesadaran, pembangunan jalan, parit dan base
camp, harus mendapat perhatian khusus dalam melindungi sumber daya hutan.
Showing Page:
9/29
9
BAB II
PERMASALAHAN DAN KARAKTERISTIK KERUSAKAN
LAHAN
Saat ini, erosi tanah, kelangkaan air, energi, serta keanekaragaman hayati menjadi
permasalahan lingkungan global sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk yang ada.
Erosi tanah dapat menyebabkan degradasi lahan karena dapat menurunkan kualitas tanah
serta produktivitas alami lahan pertanian serta ekosistem hutan. Di Indonesia, laju erosi tanah
pada lahan pertanian dengan lereng 3-30% tergolong tinggi, berkisar antara 60-625
t/ha/tahun, padahal banyak lahan pertanian yang berlereng lebih dari 15%, bahkan lebih dari
100% sehingga erosi tanah tergolong sangat tinggi. Konservasi tanah dan air akan mengarah
kepada terciptanya sistem pertanian berkelanjutan yang didukung oleh teknologi dan
kelembagaan serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan melestarikan sumber
daya lahan serta lingkungan. Konservasi tanah dan air melalui pendekatan agroekosistem
dapat meningkatkan keuntungan usaha tani, memperbaiki ketahanan pangan, dan
meningkatkan produktivitas lahan secara berkelanjutan (FAO 2011). Upaya lain yang dapat
dilakukan yaitu menerapkan secara simultan tiga prinsip konservasi tanah dan air, yaitu olah
tanah minimum, penggunaan penutup tanah permanen berupa residu tanaman dan/atau
tanaman penutup tanah (cover crop), serta rotasi tanaman (FAO 2010). Aspek penting dalam
konservasi tanah dan air pada lahan kering terdegradasi di daerah tropis ialah penutup tanah
organik karena dapat memengaruhi neraca air tanah aktivitas biologi tanah, serta peningkatan
bahan organik dan kesuburan tanah (Lahmar et al. 2011). Dalam jangka panjang, konservasi
tanah dan air bermanfaat dalam upaya mitigasi perubahan iklim dan degradasi lahan
(Marongwe et al. 2011).
2.1 Factor penyebab masalah Erosi Tanah pada lereng Air
Menurut Sitanala Arsyad dalam bukunya yang berjudul "Konservasi Tanah dan Air"
(1989), dikatakan bahwa erosi juga bisa dikarenakan oleh interaksi antara faktor iklim,
topografi, tanah, vegetasi, dan manusia. Penyebab erosi tanah terbagi menjadi dua faktor
yaitu faktor alam serta faktor non alam. Faktor alam merupakan faktor alamiah yang terjadi
bukan karena campur tangan manusia melainkan terjadi secara alami seperti iklim,
kemiringan, panjang lereng, sifat fisik tanah, dan vegetasi. Sedangkan penyebab erosi faktor
non alam disebabkan oleh manusia.
Adapun penjelasan dari factor-faktor yang menyebabkan erosi tanah dapat terjadi:
Showing Page:
10/29
10
1) Faktor Iklim
Intensitas curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan erosi tanah terjadi. Hal ini
dikarenakan buliran hujan yang jatuh ke tanah menyebabkan agregat tanah pecah dan
menghasilkan energi kinetik yang besar. Terlebih jika curah hujan lebat dan terjadi
dalam waktu singkat. Kemungkinan terjadinya erosi semakin meningkat.
2) Topografi
Unsur topografi juga ikut memengaruhi terjadinya erosi karena berkaitan dengan
kemiringan dan panjang dari lereng. Semakin besar kemiringan lereng, maka intensitas
erosi air akan semakin tinggi.
3) Vegetasi
Vegetasi merupakan lapisan pelindung antara atmosfer dan tanah. Vegetasi yang baik
berupa rumput tebal atau hitam rimba akan mengurangi pengaruh hujan dan topografi
terhadap erosi. Sebaiknya, penebangan hutan akan merusak lapisan permukaan dan
menyebabkan erosi.
4) Tanah
Kerusakan pada tanah atau tempat terjadinya erosi bisa dikarenakan oleh sifat kimia
dan fisika tanah seperti kehilangan unsur hara, bahan organik, meningkatnya kepadatan
dan ketahanan penetrasi tanah, hingga menurunnya kapasitas tanah saat menahan air.
5) Manusia
Showing Page:
11/29
11
Kegiatan manusia yang menyebabkan erosi adalah penggundulan hutan, mengubah
lahan pertanian untuk pemukiman, terasering, hingga penggunaan pupuk yang
berpengaruh pada struktur tanah.
Manusia sekarang ini sangat sering menggunakan lebih dari separuh ketersediaan air
tawar, termasuk air tanah yang saat ini dieksploitasi di berbagai bagian dunia, termasuk di
Indonesia (Seckler et al. 1999; UNEP dan IWMI 2011). Erosi tanah yang terjadi
menimbulkan kerusakan yang sangat luas dan mahal, baik di tempat kejadian erosi maupun di
tempat pengendapan sedimen. Kerusakan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah pada tempat
terjadinya erosi dapat berupa penurunan kapasitas infiltrasi serta kemampuan tanah menahan
air (water holding capacity), peningkatan kepadatan dan ketahanan penetrasi tanah,
penurunan kualitas struktur tanah, serta pengurangan ketersediaan bahan organik dan
organisme tanah seperti cacing karena terbawa aliran permukaan (Suwardjo 1981; Arsyad
1989).
Kerusakan tanah pada lereng akibat erosi yang terjadi secara menyeluruh dikemukakan
oleh Lal dan Stewart (1998). Pengaruh erosi tanah di tempat kejadian dapat dibedakan
menjadi pengaruh langsung (jangka pendek) maupun pengaruh tidak langsung (jangka
panjang). Pengaruh langsung dari terjadinya erosi dapat berupa gangguan terhadap
pertumbuhan tanaman dan pemupukan yang tidak efisien, karena sebagian besar pupuk
terbawa aliran permukaan, sedangkan pengaruh tidak langsungnya ialah penurunan kualitas
tanah, meliputi penurunan kedalaman perakaran efektif, kapasitas air tersedia, dan C organik
tanah serta timbulnya sifat fisik tanah yang tidak baik pada lapisan bawah tanah. Menurut
Arsyad (1989) dan Lal serta Stewart (1998), kerusakan lahan akibat erosi tanah di tempat
pengendapan berupa penimbunan lahan pertanian, pelumpuran dan pendangkalan waduk
yang memperpendek umur guna waduk, pendangkalan sungai, saluran dan badan air lainnya,
banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau, kerusakan ekosistem
perairan, kerusakan mata air dan penurunan kualitas air, serta kerusakan lingkungan lainnya.
Showing Page:
12/29