Showing Page:
1/7
Konsep Dan Prinsip Kebutuhan Oksigenasi
1. Definisi :
Kebutuhan oksigenasi adalah kebutuhan dasar manusia dalam pemenuhan oksigen yang
digunakan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh, mempertahankan hidup dan aktivitas
berbagai organ atau sel.( Potter & Perry, 2005 ). Tanpa oksigen dalam waktu tertentu sel tubuh
akan mengalami kerusakan yang menetap dan menimbulkan kematian. Otak merupakan organ
yang sangat sensitive terhadap kekurangan oksigen.
2. Sistem tubuh yang berperan dalam proses oksigenasi Menurut Tarwoto & Wartonah (2006) ada
3 sistem tubuh yang bekerja dalam penyampaian oksigen ke jaringan tubuh yaitu sistem
respirasi, sistem kardiovaskuler dan sistem hematologi.
a. Sistem respirasi
- Ventilasi adalah proses keluar masuknya udara dari dan ke paru-paru, jumlahnya sekitar
500 ml
- Perfusi paru adalah pergerakan aliran darah melalui sirkulasi paru untuk dioksigenasi
dimana pada sirkulasi paru darah yang dioksigenasi mengalir dalam arteri pulmonalis
dari ventrikel kanan jantung.
- Difusi gas adalah bergeraknya O2 dan CO2 atau partikel lain dari area bertekanan tinggi
ke arah yang bertekanan rendah.
b. Sistem Kardiovaskuler
- Darah masuk ke atrium kiri dari vena pulmonaris. Aliran darah keluar dari ventrikel kiri
menuju aorta melalui katup aorta. Dari aorta darah disalurkan keseluruh sirkulasi
sistemik melalui arteri, arteriol, dan kapiler serta menyatu kembali membentuk vena
yang kemudian di alirkan ke jantung melalui atrium kanan. Darah dari atrium kanan
masuk dalam ventrikel kanan melalui katup trikuspidalis kemudian keluar ke arteri
pulmonalis melalui katup pulmonalis untuk kemudian di alirkan ke paru-paru kanan dan
kiri untuk berdifusi. Darah mengalir di dalam vena pulmonalis kembali ke atrium kiri dan
bersirkulasi secara sistemik.
b. System hematologi
- Oksigen membutuhkan transpor dari paru-paru ke jaringan dan karbon dioksida dari
jaringan ke paru-paru. Sekitar 97% oksigen dalam darah dibawa eritrosit yang telah
berikatan dengan hemoglobin (Hb) dan 3% oksigen larut dalam plasma
Showing Page:
2/7
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan oksigenasi
Faktor Fisiologi
1) Menurunnya kapasitas pengikatan 02 seperti pada anemia
2) Menurunnya Konsentrasi 02 yang di inspirasi seperti pada obstruksi saluran nafas
bagian atas.
3) Hipovelimea sehingga tekanan darah menurun mengakibatkan transport 02
terganngu
4) Meningkatkan metabolism seperti adanya infeksi , deman, ibu hamil , luka dan lain
lain.
5) Kondisi yang mempengaruhi pergerakan dinding dada seperti pada kehamilan,
obesitas, penyakit kronik TB paru
Faktor Perkembangan
1) Bayi premature : yang disebabkan kurangnya pembentukan surfaktan
2) Bayi dan toddler : adanya resiko saluran pernafasan akut.
3) Anak usia sekolah dan remaja, resiko infeksi saluran pernafasan dan merokok
4) Dewasa muda dan pertengahan : Diet yang tidak sehat , kurang aktivitas ,
stress , kurang aktifitas , stress yang mengakibatkan penyakit jantung dan
paru paru.
5) DewasaTua : Adanaya proses penuaan yang mengakibatkan kemungkian
arteriosclerosis, elastisitas menurun, ekspansi paru menurun.
Faktor Perkembangan
1) Nutrisi:Misalnya pada obesitas mengakibatkanpenurunan ekspansi paru, gizi
yang burukmenjadi anemia sehingga daya ikat oksigenberkurang, diet yang tinggi
lemak menimbulkanarteriosklerosis.
2) Exercise:exercise akan meningkatkan kebutuhanoksigen.
3) Merokok:Nikotin menyebabkan vasokontriksi pembuluhdarah perifer dan koroner.
4) Alkohol dan obat-obatan :Menyebabkan intake nutrisi/ Fe
menurunmengakibatkan penurunan hemoglobin, alkoholmenyebabkan depresi
pusat pernafasan.
5) Kecemasan : menyebabkan metabolismemeningkat
Faktor Lingkungan - Tempat kerja (polusi) - Suhu lingkungan
1). Tempat kerja (polusi)
2). Suhu lingkungan
3). Ketinggian tempat dari permukaan laut
4. Masalah yg timbul
a. Hiperventilasi
Definisi : Upaya tubuh dalam meningkatkan jumlah O2 dalam paru-paru agar pernafasan lebih
cepat dan dalam.
Tanda dan Gejala :
Takikardia, nafas pendek, nyeri dada (chest pain), menurunnya konsentrasi, disorientasi.
Showing Page:
3/7
b. Hipoventilasi
Definisi :
Ketika ventilasi alveolar tidak adekuat untuk memenuhi penggunaan O2 tubuh atau
mengeluarkan CO2 dengan cukup. Biasanya terjadi pada atelektasis (kolaps paru)
Tanda dan Gejala : Nyeri kepala, penurunan kesadaran, disorientasi, kardiak disritmia,
ketidakseimbangan elektrolit, kejang dan kardiak arrest
c. Hipoksia
Definisi :
Kondisi tidak tercukupinya pemenuhan O2 dalam tubuh akibat dari defisiensi O2 yang diinspirasi
atau meningkatnya penggunaan O2 di sel
Tanda dan Gejala : Kelelahan, kecemasan, menurunnya kemampuan konsentrasi, nadi
meningkat, pernafasan cepat dan dalam, sianosis, sesak nafas dan clubbing finger.
5. Pemeriksaan Fisik Pernafasan
1) Infeksi : Melihat
Pada pemeriksaan inspeksi sistem respirasi dilakukan secara menyeluruh dan sistematis.
Prosedur pemeriksaan inspeksi toraks dilakukan dalam dua keadaan, yaitu inspeksi yang
dilakukan dalam keadaan statis dan dalam keadaan dinamis. Inspeksi diawali dengan
pengamatan pada keadaan statis, terhadap keadaan umum pasien, kepala (adanya
edema di muka), mata (cunjunctiva, kelopak mata), leher ( Jugular Venous Presure,
deviasi trakea) tangan (clabing finger, kuku), kaki (edema tungkai) dan kemudian
dilanjutkan dengan pemeriksaan toraks seperti kelainan bentuk dinding toraks, dll.
2) Palpasi : Meraba
Pada pemeriksaan palpasi sistem respirasi dapat dilakukan pemeriksaan ; palpasi trakea,
palpasi KGB leher dan supra clavikula, palpasi keseluruhan dinding dada, pemeriksaan
pengembangan dinding thoraks dan pemeriksaan Tactil fremitus dinding toraks: Selain
itu dengan palpasi dapat juga menentukan kelainan di perifer seperti kondisi kulit;
(basah atau kering), adanya demam, arah aliran vena dikulit pada vena yang terbendung
(venaectasi), tumor dll
3) Perkusi : Mengetuk
Perkusi adalah jenis pemeriksaan fisik yang berdasarkan interpretasi dari suara yang
dihasilkan oleh ketokan pada dinding toraks. Metoda ini tetap penting walaupun
pemeriksaan radiologi toraks sudah makin berkembang, oleh karena dengan
pemeriksaan fisik yang baik bisa memprediksi kelainan yang ada dalam rongga toraks
sebelum pemeriksaan radiologi dilakukan. Dengan pemeriksaan perkusi / ketot pada
dinding toraks akan menggetarkan udara yang ada dalam dalam paru. Bunyi yang
dihasilkan tergantung dari banyak sedikitnya udara yang ada dalam rongga dada.
Showing Page:
4/7
Penilaiananya dapat dikelompokan sebagai berikut; Sonor Hipersonor redup
Pekak
4) Auskultasi : Mendengar
Auskultasi paru dilaksanakan secara indirect yaitu dengan memakai stetoskop. Sebelum
ditemukan stetoskop auskultasi dilakukan secara direct dengan menempelkan telinga
pemeriksa pada permukaan tubuh orang sakit. Ada dua tipe dari stetoskop yaitu Bell
type untuk mendengar nada-nada yang lebih rendah dan Bowel atau membran type
untuk nada-nada yang lebih tinggi. Umumnya setiap stetoskop dilengkapi dengan kedua
tipe ini. Posisi penderita sebaiknya duduk seperti melakukan perkusi. Kalau pasien tidak
bisa duduk, auskultasi dapat dilaksanakan dalam posisi tidur. Pasien sebaiknya disuruh
bernapas dengan mulut tidak melalui hidung. Pemeriksa memberikan contoh bernapas
terlebih dulu sebelum memeriksa pasien. Yang diperiksa pada auskultasi paru adalah :
1. Suara napas utama (breath sounds)
2. Suara napas tambahan
6. Tata Cara Pemberian Oksigen
1. Pastikan sumber oksigen telah tersedia dan terpasang dengan regulator, flowmeter,
dan humidifier
2. Identifikasi pasien dengan benar
3. Cuci tangan
4. Jelaskan ulang prosedur pada pasien
5. Posisikan pasien untuk duduk atau setengah duduk bila memungkinkan
6. Hubungkan selang kanul ke sumber oksigen
7. Nyalakan aliran oksigen sesuai dosis yang dibutuhkan pasien, pastikan ada aliran oksigen
yang keluar melalui ujung kanul
8. Posisikan prong dari kanul hidung agar melengkung ke bawah, kemudian insersi prong ke
dalam rongga hidung Posisikan kedua sisi selang di atas dan belakang telinga
9. Fiksasi kanul pada bagian bawah dagu pasien
10. Lakukan pemantauan respon klinis pasien dan kontinuitas aliran oksigen secara rutin
7. Cara Pemberian Obat
1. Nassal Canula
Kanula Nasal: Suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen kontinu dengan
aliran 1-6 liter/menit dengan konsentrasi sama dengan kateter nasal. Metode ini adalah
yang paling mudah dan dapat diterima karena lebih efektif, mudah dipakai dan nyaman
untuk pasien
Kelebihan :
- Lebih dapat ditolelir (anak-anak dan dewasa)
Showing Page:
5/7
- Pemberian oksigen stabil dengan volume tidak dan laju pernapasan teratur,
pemasangannya mudah dibandingkan kateter nasal, klien bebas makan, bergerak,
berbicara, lebih mudah ditolerir pasien dan terasa nyaman.
- Bisa melakukan aktivitas lain seperti makan dan berbicara dengan nyaman karena
ukuran yang kecil.
Kekurangan :
- Konsentrasi yang dihasilkan kurang
- Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen lebih dari 44%, suplai oksigen
berkurang bila klien bernapas melalui mulut, mudah lepas karena kedalaman
kanul hanya 1 cm, dapat mengiritasi selaput lendir.
Nasal kanul adalah salah satu model terapi oksigen dengan meletakkan selang dengan dua
cabang pada masing-masing lubang hidung sebagai alat bantu pernapasan. Metode paling
mudah dan dapat diterima karena lebih efektif, mudah dipakai dan nyaman untuk pasien
Penggunaan nasal kanul terbilang cukup menguntungkan, karena dapat memberi oksigen
dengan volume tidal dan dengan laju pernapasan teratur. Pemasangan nasal kanul tergolong
mudah, pasien juga bisa melakukan aktivitas lain seperti makan dan berbicara dengan nyaman
karena ukuran yang kecil. Saat ini nasal kanul dapat memberi bantuan oksigen dengan laju
sampai 60 L/menit.
Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan nasal kanul, yakni
suplai oksigen dapat berkurang ketika pasien bernapas lewat mulut yang berisiko menyebabkan
iritasi pada selaput lendir.
Nasal kanul juga dapat digunakan sebagai apnoeic/passive oxygenation untuk mencegah
hipoksemia saat prosedur pemasangan intubasi.
kemungkinan risiko komplikasi setelah pasien melakukan terapi oksigen nasal kanul, seperti:
- Iritasi kulit.
- Komplikasi pada mukosa hidung.
- Mengalami hiperoksia, yaitu kadar oksigen di dalam tubuh terlalu tinggi.
- Mengalami hiperkapnia, yaitu ketidaknormalan tekanan parsial karbon
dioksida (PaCO2) di dalam darah.
Showing Page:
6/7
2. Rebreathing Mask
Keuntungan :
- Konsentrasi O2 lebih tinggi
- konsentrasi oksigen lebih tinggi dari sungkup muka sederhana, tidak mengeringkan
selaput lendir
Kekurangan :
- Udara bersih dengan udara ekspirasi masih tercampur
- Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah, jika aliran lebih rendah
dapat menyebabkan penumpukan CO2, kantong oksigen bisa terlipat.
3. Non Rebreathing Mask
Pemberian oksigen dengan konsentrasi mencapai 99% dengan aliran 8-12 liter/menit di
mana udara inspirasi tidak bercampur dengan udara ekspirasi
Keuntungan :
- Konsentrasi O2 lebih tinggi dari nasal dan rebreathing
- konsentrasi oksigen yang diperoleh dapat mencapai 100%, tidak mengeringkan
selaput lendir.
Kekurangan :
- Kantung oksigen bisa terlipat, beresiko terjadi keracunan oksigen
Perbedaan rebreathing mask dan non rebreathing mask adalah adanya katup satu arah pada
non rebreathing mask yang mencegah terhirupnya kembali CO₂ yang telah dikeluarkan.
Rebreathing mask terdapat kantong udara atau reservoir bag. Pada saat inspirasi (menarik
napas), pasien menghirup udara yang berasal dari sungkup, resevoir bag dan lubang-lubang
ventilasi. Sedangkan ketika ekspirasi (menghembuskan napas), sepertiga awal udara yang
dihembuskan akan mengalir kembali ke dalam reservoir bag dan sisanya keluar melalui lubang
ventilasi.
Non-rebreathing oxygen mask (NRM) yang benar meliputi pemasangan selang ke sumber
oksigen, memastikan kantung reservoir mengembang, dan memastikan terdapat katup satu
arah. Berfungsi mencegah terhirupnya kembali CO₂ sehingga O2 yang masuk melalui inspirasi
jumlahnya maksimal. NRBM digunakan untuk memberikan oksigen dengan konsentrasi dan
kecapatan aliran tinggi.
4. Venturi mask
masker ini mempunyai jet adapter yang terletak antara masker dengan pipa dari sumber
oksigen. Oksigen dari pipa akan melewati lubang kecil pada jet adapter sehingga mengalir
dengan cepat dan disemburkan menuju masker.
Venturi mask menerapkan prinsip entrainment udara (menjebak udara seperti vakum), yang
memberikan aliran udara yang tinggi dengan pengayaan oksigen terkontrol. Prinsip pemberian
O2 dengan alat ini yaitu gas yang dialirkan dari tabung akan menuju ke sungkup yang kemudian
akan dihimpit untuk mengatur suplai oksigen sehingga tercipta tekanan negatif, akibatnya udara
luar dapat diisap dan aliran udara yang dihasilkan lebih banyak.
Showing Page:
7/7
Keuntungan
- Aliran udara cepat
- Menghasilkan nilai FiO2 yang sangat tepat
- Sangat tepat pada pasien yang apabila diberikan oksigen berlebihan akan menekan
pusat pernapasan
- Konsentrasi oksigen yang diberikan konstan sesuai dengan petunjuk pada alat dan tidak
dipengaruhi perubahan pola nafas terhadap FiO2, (Fraction of Inspired Oxygen)
- Suhu dan kelembaban gas dapat dikontrol
- Tidak terjadi penumpukan CO2
Kekurangan
- Keterbatasan akses pasien untuk makan dan minum
- Keterbatasan akses pasien untuk makan, minum dan ekspektorasi
- Iritasi pada mata karena kecepatan aliran yang tinggi
- Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah
- Jika aliran lebih rendah dapat menyebabkan penumpukan CO2
- Kantong oksigen bisa terlipat.
Venturi mask menerapkan prinsip entrainment udara (menjebak udara seperti vakum), yang
memberikan aliran udara yang tinggi dengan pengayaan oksigen terkontrol. Prinsip pemberian
O2 dengan alat ini yaitu gas yang dialirkan dari tabung akan menuju ke sungkup yang kemudian
akan dihimpit untuk mengatur suplai oksigen sehingga tercipta tekanan negatif, akibatnya udara
luar dapat diisap dan aliran udara yang dihasilkan lebih banyak.

Unformatted Attachment Preview

Konsep Dan Prinsip Kebutuhan Oksigenasi 1. Definisi : Kebutuhan oksigenasi adalah kebutuhan dasar manusia dalam pemenuhan oksigen yang digunakan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh, mempertahankan hidup dan aktivitas berbagai organ atau sel.( Potter & Perry, 2005 ). Tanpa oksigen dalam waktu tertentu sel tubuh akan mengalami kerusakan yang menetap dan menimbulkan kematian. Otak merupakan organ yang sangat sensitive terhadap kekurangan oksigen. 2. Sistem tubuh yang berperan dalam proses oksigenasi Menurut Tarwoto & Wartonah (2006) ada 3 sistem tubuh yang bekerja dalam penyampaian oksigen ke jaringan tubuh yaitu sistem respirasi, sistem kardiovaskuler dan sistem hematologi. a. Sistem respirasi - Ventilasi adalah proses keluar masuknya udara dari dan ke paru-paru, jumlahnya sekitar 500 ml - Perfusi paru adalah pergerakan aliran darah melalui sirkulasi paru untuk dioksigenasi dimana pada sirkulasi paru darah yang dioksigenasi mengalir dalam arteri pulmonalis dari ventrikel kanan jantung. - Difusi gas adalah bergeraknya O2 dan CO2 atau partikel lain dari area bertekanan tinggi ke arah yang bertekanan rendah. b. Sistem Kardiovaskuler - Darah masuk ke atrium kiri dari vena pulmonaris. Aliran darah keluar dari ventrikel kiri menuju aorta melalui katup aorta. Dari aorta darah disalurkan keseluruh sirkulasi sistemik melalui arteri, arteriol, dan kapiler serta menyatu kembali membentuk vena yang kemudian di alirkan ke jantung melalui atrium kanan. Darah dari atrium kanan masuk dalam ventrikel kanan melalui katup trikuspidalis kemudian keluar ke arteri pulmonalis melalui katup pulmonalis untuk kemudian di alirkan ke paru-paru kanan dan kiri untuk berdifusi. Darah mengalir di dalam vena pulmonalis kembali ke atrium kiri dan bersirkulasi secara sistemik. b. System hematologi - Oksigen membutuhkan transpor dari paru-paru ke jaringan dan karbon dioksida dari jaringan ke paru-paru. Sekitar 97% oksigen dalam darah dibawa eritrosit yang telah berikatan dengan hemoglobin (Hb) dan 3% oksigen larut dalam plasma 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan oksigenasi • Faktor Fisiologi 1) Menurunnya kapasitas pengikatan 02 seperti pada anemia 2) Menurunnya Konsentrasi 02 yang di inspirasi seperti pada obstruksi saluran nafas bagian atas. 3) Hipovelimea sehingga tekanan darah menurun mengakibatkan transport 02 terganngu 4) Meningkatkan metabolism seperti adanya infeksi , deman, ibu hamil , luka dan lain lain. 5) Kondisi yang mempengaruhi pergerakan dinding dada seperti pada kehamilan, obesitas, penyakit kronik TB paru • Faktor Perkembangan 1) Bayi premature : yang disebabkan kurangnya pembentukan surfaktan 2) Bayi dan toddler : adanya resiko saluran pernafasan akut. 3) Anak usia sekolah dan remaja, resiko infeksi saluran pernafasan dan merokok 4) Dewasa muda dan pertengahan : Diet yang tidak sehat , kurang aktivitas , stress , kurang aktifitas , stress yang mengakibatkan penyakit jantung dan paru paru. 5) DewasaTua : Adanaya proses penuaan yang mengakibatkan kemungkian arteriosclerosis, elastisitas menurun, ekspansi paru menurun. • Faktor Perkembangan 1) Nutrisi:Misalnya pada obesitas mengakibatkanpenurunan ekspansi paru, gizi yang burukmenjadi anemia sehingga daya ikat oksigenberkurang, diet yang tinggi lemak menimbulkanarteriosklerosis. 2) Exercise:exercise akan meningkatkan kebutuhanoksigen. 3) Merokok:Nikotin menyebabkan vasokontriksi pembuluhdarah perifer dan koroner. 4) Alkohol dan obat-obatan :Menyebabkan intake nutrisi/ Fe menurunmengakibatkan penurunan hemoglobin, alkoholmenyebabkan depresi pusat pernafasan. 5) Kecemasan : menyebabkan metabolismemeningkat • Faktor Lingkungan - Tempat kerja (polusi) - Suhu lingkungan 1). Tempat kerja (polusi) 2). Suhu lingkungan 3). Ketinggian tempat dari permukaan laut 4. Masalah yg timbul a. Hiperventilasi Definisi : Upaya tubuh dalam meningkatkan jumlah O2 dalam paru-paru agar pernafasan lebih cepat dan dalam. Tanda dan Gejala : Takikardia, nafas pendek, nyeri dada (chest pain), menurunnya konsentrasi, disorientasi. b. Hipoventilasi Definisi : Ketika ventilasi alveolar tidak adekuat untuk memenuhi penggunaan O2 tubuh atau mengeluarkan CO2 dengan cukup. Biasanya terjadi pada atelektasis (kolaps paru) Tanda dan Gejala : Nyeri kepala, penurunan kesadaran, disorientasi, kardiak disritmia, ketidakseimbangan elektrolit, kejang dan kardiak arrest c. Hipoksia Definisi : Kondisi tidak tercukupinya pemenuhan O2 dalam tubuh akibat dari defisiensi O2 yang diinspirasi atau meningkatnya penggunaan O2 di sel Tanda dan Gejala : Kelelahan, kecemasan, menurunnya kemampuan konsentrasi, nadi meningkat, pernafasan cepat dan dalam, sianosis, sesak nafas dan clubbing finger. 5. Pemeriksaan Fisik Pernafasan 1) Infeksi : Melihat Pada pemeriksaan inspeksi sistem respirasi dilakukan secara menyeluruh dan sistematis. Prosedur pemeriksaan inspeksi toraks dilakukan dalam dua keadaan, yaitu inspeksi yang dilakukan dalam keadaan statis dan dalam keadaan dinamis. Inspeksi diawali dengan pengamatan pada keadaan statis, terhadap keadaan umum pasien, kepala (adanya edema di muka), mata (cunjunctiva, kelopak mata), leher ( Jugular Venous Presure, deviasi trakea) tangan (clabing finger, kuku), kaki (edema tungkai) dan kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan toraks seperti kelainan bentuk dinding toraks, dll. 2) Palpasi : Meraba Pada pemeriksaan palpasi sistem respirasi dapat dilakukan pemeriksaan ; palpasi trakea, palpasi KGB leher dan supra clavikula, palpasi keseluruhan dinding dada, pemeriksaan pengembangan dinding thoraks dan pemeriksaan Tactil fremitus dinding toraks: Selain itu dengan palpasi dapat juga menentukan kelainan di perifer seperti kondisi kulit; (basah atau kering), adanya demam, arah aliran vena dikulit pada vena yang terbendung (venaectasi), tumor dll 3) Perkusi : Mengetuk Perkusi adalah jenis pemeriksaan fisik yang berdasarkan interpretasi dari suara yang dihasilkan oleh ketokan pada dinding toraks. Metoda ini tetap penting walaupun pemeriksaan radiologi toraks sudah makin berkembang, oleh karena dengan pemeriksaan fisik yang baik bisa memprediksi kelainan yang ada dalam rongga toraks sebelum pemeriksaan radiologi dilakukan. Dengan pemeriksaan perkusi / ketot pada dinding toraks akan menggetarkan udara yang ada dalam dalam paru. Bunyi yang dihasilkan tergantung dari banyak sedikitnya udara yang ada dalam rongga dada. Penilaiananya dapat dikelompokan sebagai berikut;  Sonor  Hipersonor  redup  Pekak 4) Auskultasi : Mendengar Auskultasi paru dilaksanakan secara indirect yaitu dengan memakai stetoskop. Sebelum ditemukan stetoskop auskultasi dilakukan secara direct dengan menempelkan telinga pemeriksa pada permukaan tubuh orang sakit. Ada dua tipe dari stetoskop yaitu Bell type untuk mendengar nada-nada yang lebih rendah dan Bowel atau membran type untuk nada-nada yang lebih tinggi. Umumnya setiap stetoskop dilengkapi dengan kedua tipe ini. Posisi penderita sebaiknya duduk seperti melakukan perkusi. Kalau pasien tidak bisa duduk, auskultasi dapat dilaksanakan dalam posisi tidur. Pasien sebaiknya disuruh bernapas dengan mulut tidak melalui hidung. Pemeriksa memberikan contoh bernapas terlebih dulu sebelum memeriksa pasien. Yang diperiksa pada auskultasi paru adalah : 1. Suara napas utama (breath sounds) 2. Suara napas tambahan 6. Tata Cara Pemberian Oksigen 1. Pastikan sumber oksigen telah tersedia dan terpasang dengan regulator, flowmeter, dan humidifier 2. Identifikasi pasien dengan benar 3. Cuci tangan 4. Jelaskan ulang prosedur pada pasien 5. Posisikan pasien untuk duduk atau setengah duduk bila memungkinkan 6. Hubungkan selang kanul ke sumber oksigen 7. Nyalakan aliran oksigen sesuai dosis yang dibutuhkan pasien, pastikan ada aliran oksigen yang keluar melalui ujung kanul 8. Posisikan prong dari kanul hidung agar melengkung ke bawah, kemudian insersi prong ke dalam rongga hidung Posisikan kedua sisi selang di atas dan belakang telinga 9. Fiksasi kanul pada bagian bawah dagu pasien 10. Lakukan pemantauan respon klinis pasien dan kontinuitas aliran oksigen secara rutin 7. Cara Pemberian Obat 1. Nassal Canula Kanula Nasal: Suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen kontinu dengan aliran 1-6 liter/menit dengan konsentrasi sama dengan kateter nasal. Metode ini adalah yang paling mudah dan dapat diterima karena lebih efektif, mudah dipakai dan nyaman untuk pasien • - Kelebihan : Lebih dapat ditolelir (anak-anak dan dewasa) - - • - Pemberian oksigen stabil dengan volume tidak dan laju pernapasan teratur, pemasangannya mudah dibandingkan kateter nasal, klien bebas makan, bergerak, berbicara, lebih mudah ditolerir pasien dan terasa nyaman. Bisa melakukan aktivitas lain seperti makan dan berbicara dengan nyaman karena ukuran yang kecil. Kekurangan : Konsentrasi yang dihasilkan kurang Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen lebih dari 44%, suplai oksigen berkurang bila klien bernapas melalui mulut, mudah lepas karena kedalaman kanul hanya 1 cm, dapat mengiritasi selaput lendir. ✓ Nasal kanul adalah salah satu model terapi oksigen dengan meletakkan selang dengan dua cabang pada masing-masing lubang hidung sebagai alat bantu pernapasan. Metode paling mudah dan dapat diterima karena lebih efektif, mudah dipakai dan nyaman untuk pasien ✓ Penggunaan nasal kanul terbilang cukup menguntungkan, karena dapat memberi oksigen dengan volume tidal dan dengan laju pernapasan teratur. Pemasangan nasal kanul tergolong mudah, pasien juga bisa melakukan aktivitas lain seperti makan dan berbicara dengan nyaman karena ukuran yang kecil. Saat ini nasal kanul dapat memberi bantuan oksigen dengan laju sampai 60 L/menit. ✓ Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan nasal kanul, yakni suplai oksigen dapat berkurang ketika pasien bernapas lewat mulut yang berisiko menyebabkan iritasi pada selaput lendir. ✓ Nasal kanul juga dapat digunakan sebagai apnoeic/passive oxygenation untuk mencegah hipoksemia saat prosedur pemasangan intubasi. ✓ kemungkinan risiko komplikasi setelah pasien melakukan terapi oksigen nasal kanul, seperti: - Iritasi kulit. - Komplikasi pada mukosa hidung. - Mengalami hiperoksia, yaitu kadar oksigen di dalam tubuh terlalu tinggi. - Mengalami hiperkapnia, yaitu ketidaknormalan tekanan parsial karbon dioksida (PaCO2) di dalam darah. 2. Rebreathing Mask • Keuntungan : - Konsentrasi O2 lebih tinggi - konsentrasi oksigen lebih tinggi dari sungkup muka sederhana, tidak mengeringkan selaput lendir • Kekurangan : - Udara bersih dengan udara ekspirasi masih tercampur - Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah, jika aliran lebih rendah dapat menyebabkan penumpukan CO2, kantong oksigen bisa terlipat. 3. Non Rebreathing Mask Pemberian oksigen dengan konsentrasi mencapai 99% dengan aliran 8-12 liter/menit di mana udara inspirasi tidak bercampur dengan udara ekspirasi • - Keuntungan : Konsentrasi O2 lebih tinggi dari nasal dan rebreathing konsentrasi oksigen yang diperoleh dapat mencapai 100%, tidak mengeringkan selaput lendir. • Kekurangan : - Kantung oksigen bisa terlipat, beresiko terjadi keracunan oksigen ✓ Perbedaan rebreathing mask dan non rebreathing mask adalah adanya katup satu arah pada non rebreathing mask yang mencegah terhirupnya kembali CO₂ yang telah dikeluarkan. ✓ Rebreathing mask terdapat kantong udara atau reservoir bag. Pada saat inspirasi (menarik napas), pasien menghirup udara yang berasal dari sungkup, resevoir bag dan lubang-lubang ventilasi. Sedangkan ketika ekspirasi (menghembuskan napas), sepertiga awal udara yang dihembuskan akan mengalir kembali ke dalam reservoir bag dan sisanya keluar melalui lubang ventilasi. ✓ Non-rebreathing oxygen mask (NRM) yang benar meliputi pemasangan selang ke sumber oksigen, memastikan kantung reservoir mengembang, dan memastikan terdapat katup satu arah. Berfungsi mencegah terhirupnya kembali CO₂ sehingga O2 yang masuk melalui inspirasi jumlahnya maksimal. NRBM digunakan untuk memberikan oksigen dengan konsentrasi dan kecapatan aliran tinggi. 4. Venturi mask ✓ masker ini mempunyai jet adapter yang terletak antara masker dengan pipa dari sumber oksigen. Oksigen dari pipa akan melewati lubang kecil pada jet adapter sehingga mengalir dengan cepat dan disemburkan menuju masker. ✓ Venturi mask menerapkan prinsip entrainment udara (menjebak udara seperti vakum), yang memberikan aliran udara yang tinggi dengan pengayaan oksigen terkontrol. Prinsip pemberian O2 dengan alat ini yaitu gas yang dialirkan dari tabung akan menuju ke sungkup yang kemudian akan dihimpit untuk mengatur suplai oksigen sehingga tercipta tekanan negatif, akibatnya udara luar dapat diisap dan aliran udara yang dihasilkan lebih banyak. • - - Keuntungan Aliran udara cepat Menghasilkan nilai FiO2 yang sangat tepat Sangat tepat pada pasien yang apabila diberikan oksigen berlebihan akan menekan pusat pernapasan Konsentrasi oksigen yang diberikan konstan sesuai dengan petunjuk pada alat dan tidak dipengaruhi perubahan pola nafas terhadap FiO2, (Fraction of Inspired Oxygen) Suhu dan kelembaban gas dapat dikontrol Tidak terjadi penumpukan CO2 • - Kekurangan Keterbatasan akses pasien untuk makan dan minum Keterbatasan akses pasien untuk makan, minum dan ekspektorasi Iritasi pada mata karena kecepatan aliran yang tinggi Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah Jika aliran lebih rendah dapat menyebabkan penumpukan CO2 Kantong oksigen bisa terlipat. - ✓ Venturi mask menerapkan prinsip entrainment udara (menjebak udara seperti vakum), yang memberikan aliran udara yang tinggi dengan pengayaan oksigen terkontrol. Prinsip pemberian O2 dengan alat ini yaitu gas yang dialirkan dari tabung akan menuju ke sungkup yang kemudian akan dihimpit untuk mengatur suplai oksigen sehingga tercipta tekanan negatif, akibatnya udara luar dapat diisap dan aliran udara yang dihasilkan lebih banyak. Name: Description: ...
User generated content is uploaded by users for the purposes of learning and should be used following Studypool's honor code & terms of service.
Studypool
4.7
Trustpilot
4.5
Sitejabber
4.4