Showing Page:
1/9
Latar belakang
pariwisata adalah salah satu sektor unggulan yang
1
memberikan kontribusi signifikan terhadap
pendapatan nasional Indonesia, Pemerintah telah menetapkan sektor pariwisata merupakan salah
satu prioritas pembangunan nasional di tahun 2017 selain sektor pangan, energi, maritim, dan
kawasan industry. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata, sektor pariwisata dipercaya dapat
meningkatkan perekonomian masyarakat. Setiap tahunnya sektor pariwisata konsisten
menyumbang devisa sebesar 9.3%. Sumbangan tersebut memang relatif kecil, namun jika
pariwisata terus dikembangkan maka angka tersebut akan terus meningkat. Bahkan, di tahun 2017
rata-rata capaian PDB yang disumbangkan oleh sektor pariwisata mencapai 11,3% dan capaian
rata-rata devisa negara yang dihasilkan mencapai 172 triliun (Alamsjah 2016). Artinya jika
pariwisata terus dikembangkan maka akan benar-benar bisa menyejahterakan masyarakat.
Indonesia saat ini diketahui sebagai Negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di
dunia. Maka sudah sepatutnya sektor pariwisata melihat hal ini sebagai sebuah ceruk pasar baru
yang cukup potensial, dengan menggabungkan konsep wisata dan nilai-nilai ke Islaman maka
sudah pariwisata Syariah dapat menjadi jawaban atas kondisi tersebut. Jumlah kunjungan wisman
ke Indonesia beberapa tahun terakhir ini di dominasi oleh wisman asal Negara- negara ASEAN
seperti Malaysia, Singapura, dan lain-lain. Selain itu juga dari beberapa Negara Eropa, terutama
Rusia, kemudian dari Amerika, Australia, dan Negara-negara Timur Tengah seperti Saudi Arabia,
Qatar, dan lain-lain.
Pengetahuan dan kesadaran akan produk halal menjadikan pertumbuhan industri halal semakin
meningkat. Meningkatnya industri halal tersebut, memunculkan wisata halal (halal tourism)
sebagai fenomena baru. Hal ini juga didukung oleh berbagai literatur yang menjelaskan bahwa
wisatawan muslim peduli terhadap konsumsi produk dan layanan sesuai syariah ketika
berkunjung ketempat wisata. Minat terhadap wisata halal (halal tourism) mengalami
pertumbuhan yang meningkat. Peningkatan tersebut seiring dengan meningkatnya wisatawan
muslim dari tahun ke tahun. Untuk mengeksplorasi potensi besar pariwisata halal tersebut,
1
Kevin,manajemen pemasaran jurnal, Jakarta: erlangga 2009
Showing Page:
2/9
banyak negara (baik negara dengan mayoritas muslim maupun non-muslim) mulai menyediakan
produk, fasilitas, dan infrastruktur pariwisata untuk memenuhi kebutuhan wisatawan muslim.
Namun, masih banyak para pelaku bisnis dan pihak yang terlibat di sektor pariwisata terkendala
dalam pemahaman (baik produk, fasilitas maupun infrastruktur) dari wisata halal tersebut.
Rumusan masalah
1. Bagaimana persepsi wisatawan terhadap destination branding sebagai strategi komunikasi
pemasaran wisata halal mmedan ?
2. Apa saja yang di persiapkan di dalam wisata halal tersebut ?
3. Bagaimana memajukan wisata halal supaya terkenal dengan public ?
Penelitian terdahulu
Untuk menjadikan penelitian ini sesuai dengan latar belakang masalah dan perumusan masalah,
maka diperlukan penetaan metodologi yang dipakai, sehingga pembahasan penelitian lebih
terarah dan tepat sasaran. Pembahasan mengenai metodologi pada penelitian ini mencakup
penjelasan tentang metode penelitian,data dan sumber data, cara penentuan sampel dan populasi,
tahap pengolahan data, metode pengumpulan data, metode analisis data, langkahlangkah
penelitian dan teknik penulisan. Berikut uraian masing-masing terkait metodologi penelitian ini:
1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di wilayah administrasi Kota Pematangiantar.
Terkhusus di daerah yang menjadi pusat pengembangan Pariwisata Halal Pematang Siantar. Hal
ini dilakukan karena tempat-tempat tersebut mewakili responden penelitian. 2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian dengan pendekatan kualitatif. Fokus penelitian dengan
pendekatan kualitatif adalah pada proses penyimpulan secara deduktif dan induktif serta pada
analisis terhadap dinamika hubungan antar fenomena yang diamati, dengan menggunakan logika
ilmiah. Penekanan penelitian dengan pendekatan kualitatif terletak pada usaha menjawab
pertanyaan penelitian melalui cara-cara berfikir formal dan argumentatif Berdasarkan kedalaman
analisisnya, penelitian ini juga dapat digolongkan ke dalam penelitian deskriptif dan eksploratif.
Penelitian deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan sesuatu yang terjadi saat ini dan melihat
keterkaitan antara variabel yang ada. Di dalamnya terdapat upaya untuk mendeskripsikan,
mencatat, menganalisis, dan menginterpretasikan kondisi-kondisi yang terjadi sekarang.
Penelitian ini tidak menguji hipotesa atau tidak menggunakan hipotesa, melainkan hanya
mendeskripsikan informasi apa adanya sesuai dengan variabel-variabel yang diteliti. Penelitian
semacam ini sering dilakukan oleh pejabat-pejabat untuk mengambil kebijakan atau keputusan
untuk melakukan tindakan-tindakan dalam melakukan tugasnya253 . Penelitian deskriptif
dilakukan sebatas pada taraf deskripsi dengan menganalisis dan menyajikan fakta secara
sistematik, dengan tujuan untuk mudah difahami dan disimpulkan. Kesimpulan yang dihasilkan
dari penelitian deskriptif selalu memberikan dasar faktual, sehingga dapat dirujuklangsung pada
data yang diperoleh254 . Kelebihan penelitian ini adalah berupaya untuk memperoleh deskripsi
yang lengkap dan akurat dari suatu situasi. Penelitian ini juga memilik. Pertama, dapat digunakan
sebagai dasar pengambilan keputusan. Kedua, untuk mengenali distribusi dan perilaku data yang
Showing Page:
3/9
dimiliki255 . Penelitian eksploratif ditandai dengan
2
fleksibilitas,256 dan bertujuan untuk
mencari hubungan-hubungan baru yang terdapat pada suatu permasalahan yang luas dan
kompleks. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengumpulkan data sebanyak-banyaknya. Setelah
dianalisa, diharapkan hasilnya dapat menjadi hipotesa untuk penelitian selanjutnya. Penelitian
eksploratif juga tidak menggunakan hipotesa. Hal ini dikarenakan adanya kompleksitas data
yang akan diteliti, sehingga tidak memungkinkan untuk merumuskan hipotesanya257 . B.
Konstruk Model Kebijakan Pengembangan Pariwisata Halal Kota Pematangsiantar Dalam
menentukan kebijakan pengembangan pariwisata halal dengan menggunakan metode ANP,
disusun konstruk model untuk menghasilkan skala prioritas kebijakan pengembaangan
pariwisata halal. Berikut diagram konstruk model model pengembangan pariwisata halal di kota
Pematangsiantar. Kerangka ANP dalam penentuan kebijakan pengembangan pariwisata halal
terdiri dari 5 kluster yakni: tujuan, aspek, masalah, solusi dan strategi. Berikut penjelasan atas
lima kluster kerangka ANP di atas: Kluster Tujuan: Tujuan utama model yakni menentukan
prioritas strategi pengembangan kawasan pariwisata halal yang berdaya saing. Kluster Aspek :
Yakni aspek-aspek yang dijadikan pertimbangan model dalam penyusunan strategi yakni: Akses,
Komunikasi, Lingkungan dan Jasa Kluster Masalah : Yakni masalah-masalah dalam
pengembangan pariwisata halal antara lain, terbatasnya aksesibilitas, kurangnya aturan dan
panduan wisata halal, kurangnya adukasi wisata halal pada stakeholder, jangkauan pasar yang
terbatas, kurangnya tour guides, lemahnya digital marketing, kurangnya pelayanan kedatangan
turis, lemahnya komitmen wisata halal, kurangnya jangkauan wi-fi, kurangnya informasi
restoran halal, kurangnya informasi hotel syariah dan kurangnya atraksi wisata halal. GOAL
TUJUAN A1,A2,A3, A4 ASPEK M1,M2, M3,M4 MASALAH P1,P2,P3 S1,S2,S3
PEMECAHA N/SOLUSI STRATEGI FEEDBACK 152 Kluster Solusi : Yakni solusi atas
masalah antara lain meningkatkan aksesibilitas, membuat aturan dan panduan yang mendukung
wisata halal, meningkatkan adukasi wisata halal pada stakeholder, meluaskan jangkauan pasar
wisata, menambah jumlah guide wisata halal
Landasan teori
Pengertian pariwisata menurut A.J Burkat dalam Damanik (2006),parwisata adalah
perpindahan orang untuk sementara dan dalam jangka waktu pendek ke tujuan-tujuan diluar
tempat dimana mereka biasa hidup dan bekerja dan juga kegiatan-kegiatan mereka selama
tinggal di suatu tempat tujuan.
Menurut mathieson & Wall dalam Pitana dan Gyatri (2005), bahwa pariwisata adalah
kegiatan perpindahan orang untuk sementara waktu ke destinasi diluar tempat tinggal dan
tempat bekerjanya dan melaksanakan kegiatan selama di destinasi dan juga penyiapan-
2
Hamzah maulana, wisata syariah dengan konvensional 2015
Showing Page:
4/9
penyiapan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Youti, (1991:103). Pariwisata berasal dari dua
kata yaitu Pari dan Wisata. Pari dapat diartikan sebagai banyak, berkali-kali,berputar-putar atau
lengkap. Sedangkan Wisata dapat diartikan sebagi perjalanan atau bepergian yang dalam hal ini
sinonim dengan kata “reavel” dalam bahasa Inggris. Atas dasar itu maka kata “pariwisata”
dapat juga diartikan sebagai perjalanan yang dilakukan berkali-kali atau berputar-putar dari
suatun tempat ketempat yang lain yang dalam bahsa Inggris didebut juga dengan istilah “Tour”
Menurut Mill dan Morisson (1985). Ada bebrapa variabul sosioekonomi yang mempengaruhi
permintaan pariwisata, yaitu :
a. Umur
Hubungan antara pariwisata dan juga umur mempunyai dua komponen yaitu : besarnya waktu
luang dan aktifitas yang berhubungan dengan tingkatan umur
a. Pendapatan
Pendapatan merupakan faktor terpenting dalam membentuk permintaan untuk
mengadakan sebuah perjalanan wisata. Bukan hanya perjalanan itu sendir yang
memakan biaya wistawan juga harus mengeluarkan uang untuk Jasa yang terdpat pada
tujuan wisata dan juga di semua aktifitas selama mengadakan perjalanan.
b. Pendidikan
Tingkat pendidikan mempengaryhi tipe dari waktu yang luang untuk digunakan dalam
perjalanan yang dipilih. Selain itu juga pendidikan merupakan suatu motivasi untuk
melakuakan perjalanan wisata. dapat juga dismpulkan bahwa tingkat pendidikan
mempengaruhi pandangan seseorang dan memberikan lebih banyak pilihan yang bisa
diambil oleh seseorang.
Sedangkan berdasarkan undang-undang no 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan,
bahwa keadaan alam, flora, dan fauna sebagai karunia tuhan yang maha esa, serta
peninggalan sejarah, seni, dan juga budaya yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan
sumber daya dan modal pembangunan kepariwisataan untuk peningkatan
kemakmuran dan kesejahteraan rakyat sebagiman terkandung dalam Pancasila dan
Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Definisi pariwisat memang tidak pernah persis diantara para ahli. Pada dasarnya
pariwisata merupakan perjalanan dengan tujuan untuk menghibur yang dilakukan
Showing Page:
5/9
diluar kegiatan sehari-hari yang dilakukan guna untuk memberikan keuntungan yang
bersifat permanen ataupun sementara. Tetapi apabila dilihat dari segi konteks
pariwisata bertujuan untuk menghibur dan juga mendidik.
Pembahasan
KONSEP DAN PRINSIP WISATA HALAL
Pariwisata halal sangat berkar dalam Islam karena setiap muslim hendaknya melakukan
perjalanan (karena berbagai alasan, diantaranya terkait langsung dengan syariat Islam itu
sendiri seperti haji dan umrah) (El-Gohary, 2015). Di dalam Al-Quran, banyak ayat yang
mendukung untuk melakukan perjalanan yakni termaktub di Ali-Imran: 137; Al-An’am: 11;
Al-Nahl: 36; Al-Naml: 69; Al-’Ankabut: 20; Ar-Rum: 9 dan 42; Saba’: 18; Yusuf: 109; Al-
Hajj: 46; Fathir: 44; Ghafhir: 82 dan 21; Muhammad: 10; Yunus: 22; dan Al-Mulk:15. Ayat-
ayat Al-Quran tersebut mendukung perjalanan dengan tujuan spritual, fisik, dan sosial
(Zamani-Farahani dan Henderson, 2010).Dari ayat-ayat tersebut dapat diambil hikmah bahwa
penyerahan diri yang lebih dalam kepada Allah dimungkinkan dengan melihat langsung
keindahan dan karunia ciptaan-Nya, serta memahami kecilnya manusia dapat mengagungkan
kebesaran Tuhan. Perjalanan dapat pula meningkatkan kesehatan dan menugurangi stres,
sehingga memungkinkan untuk beribadah lebih baik. Hubungan wisatawan (tamu) dan agama
juga ditegaskan, bahwa muslim sebagai tuan rumah harus memberikan keramah tamahan
kepada wisatawan. Di dalam islam, doa safar (perjalanan) lebih dikabulkan (Hashim et al.
2007). Sehingga Islam memiliki pengaruh yang besar pada perjalanan dan mendorong
pariwisata.
Wisata halal muncul dari kebutuhan wisatawan muslim sesuai ajaran Islam yakni sesuai
dengan Al- Quran dan Hadits. Sehingga, Konsep wisata halal merupakan aktualisasi dari
konsep ke-Islaman yakni nilai halal dan haram menjadi tolak ukur utamanya. Hal ini berarti
seluruh aspek kegiatan wisata tidak terlepas dari sertifikasi halal yang harus menjadi acuan
bagi setiap pelaku pariwisata (Chookaew et al. 2015).
Showing Page:
6/9
Hingga kini, belum ada prinsip-prinsip atau syarat utama wisata hala
3
l yang disepakati
dan tidak banyak literatur atau praktisi yang mendiskusikan dan memaparkan hal tersebut (El-
Gohary, 2016). Literatur yang mengangkat hal tersebut dapat dilihat pada Henderson (2010);
Sahida et al. (2011); Battour et al. 2010; Saad et al (2014). Berikut rangkuman prinsip-prinsip
dan atau syarat utama wisata halal dari sumber tersebut:
Makanan halal
Tidak ada minuman keras (mengandung alkohol)
Tidak menyajikan produk dari babi
Tidak ada diskotikStaf pria untuk tamu pria, dan staf wanita untuk tamu wanita
Hiburan yang sesuai
Fasilitas ruang ibadah (Masjid atau Mushalla) yang terpisah gender
Pakaian islami untuk seragam staf
Tersedianya Al-Quran dan peralatan ibadah (shalat) di kamar
Petunjuk kiblat
Seni yang tidak menggambarkan bentuk manusia
Toilet diposisikan tidak menghadap kiblat
Keuangan syariah
Hotel atau perusahaan pariwisata lainnya harus mengikuti prinsip-prinsip zakat.
Berdasarkan prinsip dan atau syarat utama wisata halal diatas, beberapa prinsip dapat
berseberangan dengan kepentingan lainnya khususnya pada negara-negara non-Islam yang
mengembangkan wisata halal. Sehingga diperlukan diskusi dan kajian mengenai hal tersebut, oleh
3
Salim bahamman panduan wisatawan muslim, jakarta: pustaka al kaustar 2012
Showing Page:
7/9
para peneliti, praktisi, termasuk ulama yang paham akan hal ini. Namun, dari prinsip-prinsip atau
syarat utama wisata halal diatas, makanan halal, produk yang tidak mengandung babi, tidak ada
minuman keras, ketersediaan fasilitas ruang ibadah, tersedianya Al-Qur’an dan peralatan ibadah
(shalat) dikamar, petunjuk kiblat, dan pakaian staf yang sopan merupakan hal yang penting bagi
wisatawan muslim (The World Halal Travel Summit, 2015)
2.2 Strategi Pengembangan Wisata halal Kota Medan
A. Terminologi Wisata
4
Syariah.Berdasarkan hasil diskusi dan wawancara,
label“halal”menjadi pilihan utama dalam Label pariwisata Kota Medan
dibandingkan penggunaan label“syariah”. Jika Label syariah digunakan, akan
menghilangkan konsep syar’i itu sendiri, yang ada hanya menghidupkan
wisata konvensional saja. Dapat dilihat pula melaluimedia internet, Untuk
Kota Medan dapat menggunakan Label “wisata halal”. Dengan demikian,
konten halal yang harus dihidupkan mulai dari produk makanan hingga
sarana/fasilitas pendukung pariwisata.
B. Akomodasi (Hotel dan Tempat Menginap Lainnya)
Ketersediaan akomodasi pada sebagian besar hotel dan tempat menginap
lainnya di Kota Medan. Beberapa hotel sudah menerapkan konsep syariah
seperti hotel madani, hotel garuda plaza, grand saka hotel dan hotel grand
Kevin,manajemen pemasaran jurnal, Jakarta: erlangga 2009
Showing Page:
8/9
kanaya hotel, dari segi produk, pelayanan, dan pengelolaannya. Dari segi
produk, misalnya toilet hotel sudah tersedia penyekat antar bilik dan
menyediakan air mengalir selain tissue; pada setiap kamar di hampir
sebagianbesar hotel sudah menyediakan sajadah, arah kiblat, tidak tersedia
aksespornografi, tidaktersedia minuman beralkohol di mini bar setiap kamar,
dll. Tetapi ada juga beberapa hotel yang masih menyediakan minuman
beralkohol namun hanya untuk tamu tamu yang berasal dari luar negri dan juga
non muslim. Dari segi pelayanan diantaranya beberapa hotel telah melakukan
seleksi terhadap tamu yang datang berpasangan, tidak ada fasilitas hiburan
yang mengarah kepada pornografi dan asusila, dll. Dan dari segi pengelolaan,
diantaranya seluruh karyawan dan karyawati memakai seragam yang sopan,
karyawati pada umumnya untuk yang muslim menggunakan jilbab, dll.
Namun, Sebagaimana tercantum dalam Permen Parekraf No. 2 tahun 2014
tentang Pedoman Penyelenggaraan Usaha Hotel Syariah, beberapa hotel telah
memiliki license sebagai pelayanan hotel berdasarkan pada Islamic
satisfaction. Sehingga, dalam akomodasi yang mendukung wisata syariah
masih memerlukan standardisasi yang jelas dan sosialisasi kebijakan dalam
Permen tersebut. Kendala dalam penyediaan akomodasi yakni kualitas dan
pelayanan (hospitality) yang masih belum maksimal.
C. Restoran dan Usaha Penyedia Jasa Makanan Minuman
Secara umum, restoran dan penyedia jasa makanan minuman di Kota Medan
dalam pengolahan dan penyajiannya sudah menerapkan prinsiphalal. Namun,
berdasarkan hasilwawancaraperlu dikajikembali mengenai pemotongan hewan
ternak seperti ayam yang masih belum sepenuhnya menggunakan konteks
islami/halal. Menurut pengurus PHRI Sumatera Utara mengenai standardisasi
label halal pada produk makanan danminuman dinyatakan belum siap. Perlu
dibuat suatustandard yang menjadi pedomanbagi restoran dan penyedia jasa
makanan minuman di Kota Medan. Selain itu, perlu adanya pengawasan dan
sosialisasi dari hulu ke hilir mengenai produk makanan yang terjamin halal.
Showing Page:
9/9

Unformatted Attachment Preview

Latar belakang pariwisata adalah salah satu sektor unggulan yang1 memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan nasional Indonesia, Pemerintah telah menetapkan sektor pariwisata merupakan salah satu prioritas pembangunan nasional di tahun 2017 selain sektor pangan, energi, maritim, dan kawasan industry. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata, sektor pariwisata dipercaya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Setiap tahunnya sektor pariwisata konsisten menyumbang devisa sebesar 9.3%. Sumbangan tersebut memang relatif kecil, namun jika pariwisata terus dikembangkan maka angka tersebut akan terus meningkat. Bahkan, di tahun 2017 rata-rata capaian PDB yang disumbangkan oleh sektor pariwisata mencapai 11,3% dan capaian rata-rata devisa negara yang dihasilkan mencapai 172 triliun (Alamsjah 2016). Artinya jika pariwisata terus dikembangkan maka akan benar-benar bisa menyejahterakan masyarakat. Indonesia saat ini diketahui sebagai Negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia. Maka sudah sepatutnya sektor pariwisata melihat hal ini sebagai sebuah ceruk pasar baru yang cukup potensial, dengan menggabungkan konsep wisata dan nilai-nilai ke Islaman maka sudah pariwisata Syariah dapat menjadi jawaban atas kondisi tersebut. Jumlah kunjungan wisman ke Indonesia beberapa tahun terakhir ini di dominasi oleh wisman asal Negara- negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura, dan lain-lain. Selain itu juga dari beberapa Negara Eropa, terutama Rusia, kemudian dari Amerika, Australia, dan Negara-negara Timur Tengah seperti Saudi Arabia, Qatar, dan lain-lain. Pengetahuan dan kesadaran akan produk halal menjadikan pertumbuhan industri halal semakin meningkat. Meningkatnya industri halal tersebut, memunculkan wisata halal (halal tourism) sebagai fenomena baru. Hal ini juga didukung oleh berbagai literatur yang menjelaskan bahwa wisatawan muslim peduli terhadap konsumsi produk dan layanan sesuai syariah ketika berkunjung ketempat wisata. Minat terhadap wisata halal (halal tourism) mengalami pertumbuhan yang meningkat. Peningkatan tersebut seiring dengan meningkatnya wisatawan muslim dari tahun ke tahun. Untuk mengeksplorasi potensi besar pariwisata halal tersebut, 1 Kevin,manajemen pemasaran jurnal, Jakarta: erlangga 2009 banyak negara (baik negara dengan mayoritas muslim maupun non-muslim) mulai menyediakan produk, fasilitas, dan infrastruktur pariwisata untuk memenuhi kebutuhan wisatawan muslim. Namun, masih banyak para pelaku bisnis dan pihak yang terlibat di sektor pariwisata terkendala dalam pemahaman (baik produk, fasilitas maupun infrastruktur) dari wisata halal tersebut. Rumusan masalah 1. Bagaimana persepsi wisatawan terhadap destination branding sebagai strategi komunikasi pemasaran wisata halal mmedan ? 2. Apa saja yang di persiapkan di dalam wisata halal tersebut ? 3. Bagaimana memajukan wisata halal supaya terkenal dengan public ? Penelitian terdahulu Untuk menjadikan penelitian ini sesuai dengan latar belakang masalah dan perumusan masalah, maka diperlukan penetaan metodologi yang dipakai, sehingga pembahasan penelitian lebih terarah dan tepat sasaran. Pembahasan mengenai metodologi pada penelitian ini mencakup penjelasan tentang metode penelitian,data dan sumber data, cara penentuan sampel dan populasi, tahap pengolahan data, metode pengumpulan data, metode analisis data, langkahlangkah penelitian dan teknik penulisan. Berikut uraian masing-masing terkait metodologi penelitian ini: 1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di wilayah administrasi Kota Pematangiantar. Terkhusus di daerah yang menjadi pusat pengembangan Pariwisata Halal Pematang Siantar. Hal ini dilakukan karena tempat-tempat tersebut mewakili responden penelitian. 2. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian dengan pendekatan kualitatif. Fokus penelitian dengan pendekatan kualitatif adalah pada proses penyimpulan secara deduktif dan induktif serta pada analisis terhadap dinamika hubungan antar fenomena yang diamati, dengan menggunakan logika ilmiah. Penekanan penelitian dengan pendekatan kualitatif terletak pada usaha menjawab pertanyaan penelitian melalui cara-cara berfikir formal dan argumentatif Berdasarkan kedalaman analisisnya, penelitian ini juga dapat digolongkan ke dalam penelitian deskriptif dan eksploratif. Penelitian deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan sesuatu yang terjadi saat ini dan melihat keterkaitan antara variabel yang ada. Di dalamnya terdapat upaya untuk mendeskripsikan, mencatat, menganalisis, dan menginterpretasikan kondisi-kondisi yang terjadi sekarang. Penelitian ini tidak menguji hipotesa atau tidak menggunakan hipotesa, melainkan hanya mendeskripsikan informasi apa adanya sesuai dengan variabel-variabel yang diteliti. Penelitian semacam ini sering dilakukan oleh pejabat-pejabat untuk mengambil kebijakan atau keputusan untuk melakukan tindakan-tindakan dalam melakukan tugasnya253 . Penelitian deskriptif dilakukan sebatas pada taraf deskripsi dengan menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematik, dengan tujuan untuk mudah difahami dan disimpulkan. Kesimpulan yang dihasilkan dari penelitian deskriptif selalu memberikan dasar faktual, sehingga dapat dirujuklangsung pada data yang diperoleh254 . Kelebihan penelitian ini adalah berupaya untuk memperoleh deskripsi yang lengkap dan akurat dari suatu situasi. Penelitian ini juga memilik. Pertama, dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Kedua, untuk mengenali distribusi dan perilaku data yang dimiliki255 . Penelitian eksploratif ditandai dengan2 fleksibilitas,256 dan bertujuan untuk mencari hubungan-hubungan baru yang terdapat pada suatu permasalahan yang luas dan kompleks. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengumpulkan data sebanyak-banyaknya. Setelah dianalisa, diharapkan hasilnya dapat menjadi hipotesa untuk penelitian selanjutnya. Penelitian eksploratif juga tidak menggunakan hipotesa. Hal ini dikarenakan adanya kompleksitas data yang akan diteliti, sehingga tidak memungkinkan untuk merumuskan hipotesanya257 . B. Konstruk Model Kebijakan Pengembangan Pariwisata Halal Kota Pematangsiantar Dalam menentukan kebijakan pengembangan pariwisata halal dengan menggunakan metode ANP, disusun konstruk model untuk menghasilkan skala prioritas kebijakan pengembaangan pariwisata halal. Berikut diagram konstruk model model pengembangan pariwisata halal di kota Pematangsiantar. Kerangka ANP dalam penentuan kebijakan pengembangan pariwisata halal terdiri dari 5 kluster yakni: tujuan, aspek, masalah, solusi dan strategi. Berikut penjelasan atas lima kluster kerangka ANP di atas: Kluster Tujuan: Tujuan utama model yakni menentukan prioritas strategi pengembangan kawasan pariwisata halal yang berdaya saing. Kluster Aspek : Yakni aspek-aspek yang dijadikan pertimbangan model dalam penyusunan strategi yakni: Akses, Komunikasi, Lingkungan dan Jasa Kluster Masalah : Yakni masalah-masalah dalam pengembangan pariwisata halal antara lain, terbatasnya aksesibilitas, kurangnya aturan dan panduan wisata halal, kurangnya adukasi wisata halal pada stakeholder, jangkauan pasar yang terbatas, kurangnya tour guides, lemahnya digital marketing, kurangnya pelayanan kedatangan turis, lemahnya komitmen wisata halal, kurangnya jangkauan wi-fi, kurangnya informasi restoran halal, kurangnya informasi hotel syariah dan kurangnya atraksi wisata halal. GOAL TUJUAN A1,A2,A3, A4 ASPEK M1,M2, M3,M4 MASALAH P1,P2,P3 S1,S2,S3 PEMECAHA N/SOLUSI STRATEGI FEEDBACK 152 Kluster Solusi : Yakni solusi atas masalah antara lain meningkatkan aksesibilitas, membuat aturan dan panduan yang mendukung wisata halal, meningkatkan adukasi wisata halal pada stakeholder, meluaskan jangkauan pasar wisata, menambah jumlah guide wisata halal Landasan teori Pengertian pariwisata menurut A.J Burkat dalam Damanik (2006),parwisata adalah perpindahan orang untuk sementara dan dalam jangka waktu pendek ke tujuan-tujuan diluar tempat dimana mereka biasa hidup dan bekerja dan juga kegiatan-kegiatan mereka selama tinggal di suatu tempat tujuan. Menurut mathieson & Wall dalam Pitana dan Gyatri (2005), bahwa pariwisata adalah kegiatan perpindahan orang untuk sementara waktu ke destinasi diluar tempat tinggal dan tempat bekerjanya dan melaksanakan kegiatan selama di destinasi dan juga penyiapan2 Hamzah maulana, wisata syariah dengan konvensional 2015 penyiapan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan mereka. Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Youti, (1991:103). Pariwisata berasal dari dua kata yaitu Pari dan Wisata. Pari dapat diartikan sebagai banyak, berkali-kali,berputar-putar atau lengkap. Sedangkan Wisata dapat diartikan sebagi perjalanan atau bepergian yang dalam hal ini sinonim dengan kata “reavel” dalam bahasa Inggris. Atas dasar itu maka kata “pariwisata” dapat juga diartikan sebagai perjalanan yang dilakukan berkali-kali atau berputar-putar dari suatun tempat ketempat yang lain yang dalam bahsa Inggris didebut juga dengan istilah “Tour” Menurut Mill dan Morisson (1985). Ada bebrapa variabul sosioekonomi yang mempengaruhi permintaan pariwisata, yaitu : a. Umur Hubungan antara pariwisata dan juga umur mempunyai dua komponen yaitu : besarnya waktu luang dan aktifitas yang berhubungan dengan tingkatan umur a. Pendapatan Pendapatan merupakan faktor terpenting dalam membentuk permintaan untuk mengadakan sebuah perjalanan wisata. Bukan hanya perjalanan itu sendir yang memakan biaya wistawan juga harus mengeluarkan uang untuk Jasa yang terdpat pada tujuan wisata dan juga di semua aktifitas selama mengadakan perjalanan. b. Pendidikan Tingkat pendidikan mempengaryhi tipe dari waktu yang luang untuk digunakan dalam perjalanan yang dipilih. Selain itu juga pendidikan merupakan suatu motivasi untuk melakuakan perjalanan wisata. dapat juga dismpulkan bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi pandangan seseorang dan memberikan lebih banyak pilihan yang bisa diambil oleh seseorang. Sedangkan berdasarkan undang-undang no 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan, bahwa keadaan alam, flora, dan fauna sebagai karunia tuhan yang maha esa, serta peninggalan sejarah, seni, dan juga budaya yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan sumber daya dan modal pembangunan kepariwisataan untuk peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat sebagiman terkandung dalam Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Definisi pariwisat memang tidak pernah persis diantara para ahli. Pada dasarnya pariwisata merupakan perjalanan dengan tujuan untuk menghibur yang dilakukan diluar kegiatan sehari-hari yang dilakukan guna untuk memberikan keuntungan yang bersifat permanen ataupun sementara. Tetapi apabila dilihat dari segi konteks pariwisata bertujuan untuk menghibur dan juga mendidik. Pembahasan KONSEP DAN PRINSIP WISATA HALAL Pariwisata halal sangat berkar dalam Islam karena setiap muslim hendaknya melakukan perjalanan (karena berbagai alasan, diantaranya terkait langsung dengan syariat Islam itu sendiri seperti haji dan umrah) (El-Gohary, 2015). Di dalam Al-Quran, banyak ayat yang mendukung untuk melakukan perjalanan yakni termaktub di Ali-Imran: 137; Al-An’am: 11; Al-Nahl: 36; Al-Naml: 69; Al-’Ankabut: 20; Ar-Rum: 9 dan 42; Saba’: 18; Yusuf: 109; AlHajj: 46; Fathir: 44; Ghafhir: 82 dan 21; Muhammad: 10; Yunus: 22; dan Al-Mulk:15. Ayatayat Al-Quran tersebut mendukung perjalanan dengan tujuan spritual, fisik, dan sosial (Zamani-Farahani dan Henderson, 2010).Dari ayat-ayat tersebut dapat diambil hikmah bahwa penyerahan diri yang lebih dalam kepada Allah dimungkinkan dengan melihat langsung keindahan dan karunia ciptaan-Nya, serta memahami kecilnya manusia dapat mengagungkan kebesaran Tuhan. Perjalanan dapat pula meningkatkan kesehatan dan menugurangi stres, sehingga memungkinkan untuk beribadah lebih baik. Hubungan wisatawan (tamu) dan agama juga ditegaskan, bahwa muslim sebagai tuan rumah harus memberikan keramah tamahan kepada wisatawan. Di dalam islam, doa safar (perjalanan) lebih dikabulkan (Hashim et al. 2007). Sehingga Islam memiliki pengaruh yang besar pada perjalanan dan mendorong pariwisata. Wisata halal muncul dari kebutuhan wisatawan muslim sesuai ajaran Islam yakni sesuai dengan Al- Quran dan Hadits. Sehingga, Konsep wisata halal merupakan aktualisasi dari konsep ke-Islaman yakni nilai halal dan haram menjadi tolak ukur utamanya. Hal ini berarti seluruh aspek kegiatan wisata tidak terlepas dari sertifikasi halal yang harus menjadi acuan bagi setiap pelaku pariwisata (Chookaew et al. 2015). Hingga kini, belum ada prinsip-prinsip atau syarat utama wisata hala3l yang disepakati dan tidak banyak literatur atau praktisi yang mendiskusikan dan memaparkan hal tersebut (ElGohary, 2016). Literatur yang mengangkat hal tersebut dapat dilihat pada Henderson (2010); Sahida et al. (2011); Battour et al. 2010; Saad et al (2014). Berikut rangkuman prinsip-prinsip dan atau syarat utama wisata halal dari sumber tersebut: ➢ Makanan halal ➢ Tidak ada minuman keras (mengandung alkohol) ➢ Tidak menyajikan produk dari babi ➢ Tidak ada diskotikStaf pria untuk tamu pria, dan staf wanita untuk tamu wanita ➢ Hiburan yang sesuai ➢ Fasilitas ruang ibadah (Masjid atau Mushalla) yang terpisah gender ➢ Pakaian islami untuk seragam staf ➢ Tersedianya Al-Quran dan peralatan ibadah (shalat) di kamar ➢ Petunjuk kiblat ➢ Seni yang tidak menggambarkan bentuk manusia ➢ Toilet diposisikan tidak menghadap kiblat ➢ Keuangan syariah ➢ Hotel atau perusahaan pariwisata lainnya harus mengikuti prinsip-prinsip zakat. Berdasarkan prinsip dan atau syarat utama wisata halal diatas, beberapa prinsip dapat berseberangan dengan kepentingan lainnya khususnya pada negara-negara non-Islam yang mengembangkan wisata halal. Sehingga diperlukan diskusi dan kajian mengenai hal tersebut, oleh 3 Salim bahamman panduan wisatawan muslim, jakarta: pustaka al kaustar 2012 para peneliti, praktisi, termasuk ulama yang paham akan hal ini. Namun, dari prinsip-prinsip atau syarat utama wisata halal diatas, makanan halal, produk yang tidak mengandung babi, tidak ada minuman keras, ketersediaan fasilitas ruang ibadah, tersedianya Al-Qur’an dan peralatan ibadah (shalat) dikamar, petunjuk kiblat, dan pakaian staf yang sopan merupakan hal yang penting bagi wisatawan muslim (The World Halal Travel Summit, 2015) 2.2 Strategi Pengembangan Wisata halal Kota Medan A. Terminologi Wisata 4Syariah.Berdasarkan hasil diskusi dan wawancara, label“halal”menjadi pilihan utama dalam Label pariwisata Kota Medan dibandingkan penggunaan label“syariah”. Jika Label syariah digunakan, akan menghilangkan konsep syar’i itu sendiri, yang ada hanya menghidupkan wisata konvensional saja. Dapat dilihat pula melaluimedia internet, Untuk Kota Medan dapat menggunakan Label “wisata halal”. Dengan demikian, konten halal yang harus dihidupkan mulai dari produk makanan hingga sarana/fasilitas pendukung pariwisata. B. Akomodasi (Hotel dan Tempat Menginap Lainnya) Ketersediaan akomodasi pada sebagian besar hotel dan tempat menginap lainnya di Kota Medan. Beberapa hotel sudah menerapkan konsep syariah seperti hotel madani, hotel garuda plaza, grand saka hotel dan hotel grand Kevin,manajemen pemasaran jurnal, Jakarta: erlangga 2009 kanaya hotel, dari segi produk, pelayanan, dan pengelolaannya. Dari segi produk, misalnya toilet hotel sudah tersedia penyekat antar bilik dan menyediakan air mengalir selain tissue; pada setiap kamar di hampir sebagianbesar hotel sudah menyediakan sajadah, arah kiblat, tidak tersedia aksespornografi, tidaktersedia minuman beralkohol di mini bar setiap kamar, dll. Tetapi ada juga beberapa hotel yang masih menyediakan minuman beralkohol namun hanya untuk tamu tamu yang berasal dari luar negri dan juga non muslim. Dari segi pelayanan diantaranya beberapa hotel telah melakukan seleksi terhadap tamu yang datang berpasangan, tidak ada fasilitas hiburan yang mengarah kepada pornografi dan asusila, dll. Dan dari segi pengelolaan, diantaranya seluruh karyawan dan karyawati memakai seragam yang sopan, karyawati pada umumnya untuk yang muslim menggunakan jilbab, dll. Namun, Sebagaimana tercantum dalam Permen Parekraf No. 2 tahun 2014 tentang Pedoman Penyelenggaraan Usaha Hotel Syariah, beberapa hotel telah memiliki license sebagai pelayanan hotel berdasarkan pada Islamic satisfaction. Sehingga, dalam akomodasi yang mendukung wisata syariah masih memerlukan standardisasi yang jelas dan sosialisasi kebijakan dalam Permen tersebut. Kendala dalam penyediaan akomodasi yakni kualitas dan pelayanan (hospitality) yang masih belum maksimal. C. Restoran dan Usaha Penyedia Jasa Makanan Minuman Secara umum, restoran dan penyedia jasa makanan minuman di Kota Medan dalam pengolahan dan penyajiannya sudah menerapkan prinsiphalal. Namun, berdasarkan hasilwawancaraperlu dikajikembali mengenai pemotongan hewan ternak seperti ayam yang masih belum sepenuhnya menggunakan konteks islami/halal. Menurut pengurus PHRI Sumatera Utara mengenai standardisasi label halal pada produk makanan danminuman dinyatakan belum siap. Perlu dibuat suatustandard yang menjadi pedomanbagi restoran dan penyedia jasa makanan minuman di Kota Medan. Selain itu, perlu adanya pengawasan dan sosialisasi dari hulu ke hilir mengenai produk makanan yang terjamin halal. Name: Description: ...
User generated content is uploaded by users for the purposes of learning and should be used following Studypool's honor code & terms of service.
Studypool
4.7
Trustpilot
4.5
Sitejabber
4.4