Showing Page:
1/4
[CERPEN] Untuk Inun
Pada suatu hari di sebuah pinggiran kota, terdapat seorang kakak beradik bernama Zahid berusia
10 tahun dan Zainun yang berusia 8 tahun. Mereka berdua lahir dari keluarga yang miskin dan
masih mengontrak. Akan tetapi karena tunggakan kontrakan yang sudah telat 4 bulan itu, maka
Zahid anak laki-laki tertua dari keluarga tersebut harus membantu ibunya setiap hari yang bekerja
sebagai buruh cuci baju milik tetangganya sepulang sekolah.
Suatu ketika setelah menjahitkan sepatu milik adiknya Zainun di pasar, Zahid mampir ke warung
Pak Safi karena disuruh ibunya membeli bahan masakan.
“Pak Safi beeli,” kata Zahid sambil mengeluarkan kertas dari sakunya yang berisi daftar bahan
masakan yang hendak dibeli.
“Eh, Zahid mau beli apa?” kata Pak Safi menyapa Zahid layaknya konsumen lain.
“Ini Pak,” kata Zahid sambil menyodorkan yang di beri Ibunya tadi. Setelah semua bahan
masakannya dikemas rapi kemudian Zahid pun bergegas membawanya pulang karena tak sabar
ingin memberikan sepatu yang sudah di jahit tadi kepada adik tercintanya yaitu Zainun. Pada saat
membawa barang-barang belanjaanya tadi, Zahid terlihat terburu-buru lalu di tengah perjalan
pulang tanpa sadar ia menjatuhkan sepatu hasil jahitan di tengah kerumunan orang-orang pasar.
Pada saat yang sama ternyata ada pemulung yang sedang lewat dan ia langsung mengambil sepatu
adiknya tersebut.
“Tok tok tok,”
Singkat cerita Zahid pun sudah sampai rumah dan dengan senyum bahagianya ia sudah lagi lagi
tak sabar ingin memberikan sepatu adik tercintanya tersebut. Dan secara kebetulan yang
membukakan pintu rumahnya adalah adiknya. Zainun merasa bahagia ketika kakaknya itu sudah
sampai rumah dan ingin segera mencoba sepatunya yang sudah diperbaiki. Lalu ketika Zahid
melihat kembali barang bawaannya, sang kakak pun terkaget karena sepatu adiknya yang sudah
diperbaiki itu lenyap tidak ada lagi di tangannya. Zahid terlihat panik dan kebingungan.
Menggeledah sana sini barang bawaannya kembali akan tetapi tidak bisa ditemukan. Walaupun
sepatu adikknya itu sudah lusuh, butut, dan mungkin terlihat tidak layak dipakai lagi akan tetapi
Showing Page:
2/4
itu adalah satu-satunya sepatu yang ia punya. Sepatu itu yang setiap hari dipake Zainun untuk pergi
ke sekolah. Kemudian terdengar isak tangis diantara keduanya.
“Jangan katakan ini pada Ayah dan Ibu ya, aku janji akan menemukan sepatu itu lagi,” kata
Zahid sambil menahan isak tangisnya. Lalu Zahid pun bergegas kembali ke pasar untuk mencari
sepaatu adiknya itu.
Di pasar, Zahid kesana kemari tak karuan mencari sepatu adiknya yang hilang tak tau dimana itu.
Mulai dari bapak-bapak tukang sol sepatu yang sudah ia kunjungi, warung Pak Safi tempat dia
membeli bahan masakan titipan ibunya tadi pagi tapi tak kunjung ia temukan. Kemudian dia juga
memutari seluruh tempat tempat di pasar tapi jawabannya masih sama. Sambil menangis dia
mencari dan terus mencari. Akan tetapi gelisahnya semakin menjadi jadi ketika satu satunya
barang berharga milik adiknya tersebut sudah HILANG.
Sesampainya dirumah Zahid terlihat lesu begitu juga dengan adiknya yang melihat kakaknya
pulang. Seolah olah sudah tau jawaban apa yang hendak kakaknya lontarkan kepadanya. Namun
adiknya tidaklah seorang pemarah. Dia merelakan satu satunya sepatunya itu hilang. Pada saat
mereka diam dalam kebingungannya, Zahid sang kakak mempunyai ide untuk bergantian
menggunakan sepatunya untuk sekolah.
Singkat cerita, hari demi hari mereka lalui dengan bergantian menggunakan sepasang sepatu milik
Zahid sang kakak. Setelah pulang sekolah Zainun berlari dengan cepat untuk memberikan
sepatunya kepada kakaknya karena jam pelajaran mereka berdekatan. Sang kakak pun sering
datang terlambat oleh karena hal itu. Sampai suatu ketika pada saat Zainun pulang sekolah, tak
sengaja sepatu yang ia pakai copot dan jatuh kedalam selokan yang berisi genaangan air yang
mengalir. Karena hal itu, Zainun harus berlarian mengikuti arus air dan sesegera mungkin
mengambilnya. Karena peristiwa itu, lagi dan lagi Zahid harus terlambat masuk kelas. Namun,
sekarang dia dimarahi dan berurusan dengan kepala sekolah karena ketahuan terlambat. Disitu
Zahid pun dimarahi habis habisan dan meminta esok pagi untuk menyuruh orang tuanya datang
kesekolah. Akan tetapi, dia terlselamatkan tatkala ada seorang guru yang menghampiri mereka
berdua dan meminta kepala sekolah untuk memaafkan Zahid karena di kelas dia tergolong murid
yang cukup pintar.
Showing Page:
3/4
Suatu hari, ketika Zahid hendak pulang sekolah dia tak sengaja melihat pengumuman di mading
sekolah. Disitu dia melihat bahwa akan akan ada pelombaan lari marathon tingkat sekolah di
daerah mereka. Zahid yang tak ada pengalaman dalam perlombaan lari itu dan bahkan sama sekali
tidaak mengikuti seleksi mendadak semangat ketika melihat hadiah yang akan dia dapatkan jika
dia berhasil menjuarai perlombaan tersebut. Hadiah itu selain piala dan medali, dia juga akan
mendapatkan sepasang sepatu olahraga. Oleh karena hal itu iya datang ke ruangan guru
olahraganya dan memohon untuk diikutsertakan dalam perlombaan itu. Dengan menangis dia terus
saja memohon sampai guru tersebut mengizinkan dia untuk berlomba. Lalu akhirnya dengan
pasrah guru itu pun mengizinkan Zahid untuk ikut dalam perlombaan itu. Tentu saja dia sangat
bahagia dan bergegas pulang untuk memberi tahukan hal itu kepada adik tercintaanya itu.
“Tok tok tok,” tiba tiba ada tamu yang mengetuk pintu rumah keluarga Zainun. Zainun yang sudah
biasa membukakan pintu untuk tamu itu pun langsung bergegas menghampiri. Ternyata tamu itu
adalah salah satu teman Zahid yang ikut dalam perlobaan lari marathon. Dia membawa sebuah
barang kotak yang terbungkus rapi. Lalu dihadapan keluarganya, Zainun pun bergegas membuka
kotak tersebut. Namun diluar kotak itu terdapat sesobek kertas. Karena penasaran, Zainun pun
membukanya sebelum melihat isi kotak tersebut. Tulisan itu bertuliskan
“Untuk Zainun, Adikku yang paling tersayang
Maafkan aku sudah menghilangkan satu satunya barang berhargamu. Aku tahu bahwa barang itu
sangat berarti bagimu. Tapi karena keteledoran kakakmu ini, kamu harus kesusahan karena harus
berlarian setiap hari untuk bergantian sepatu denganku. Dan aku tau kamu juga sangat malu
didepan temaan-temanmu karena menggunakan sepatu laki laki yang butut milik kakakmu ini. Aku
tahu meski kamu tak mengungkapkan hal itu kepadaku. Ini adalah tanda permintaan maafku
Yang menyayangimu
Kak Zahid
Zainun dan keluarganya membaca surat itu sambil terharu. Ternyata surat itu dari Kakaknya Zahid
yang berhasil memenangkan perlombaan. Surat itu sudah dia siapkan malam sebelum
pertandingan. Barang itu diantar oleh temannya karena setelah perlombaan selesai Zahid sang
Showing Page:
4/4
kakak tiba tiba begitu kelelahan dan tak sadarkan lalu di bawa ke rumah sakit untuk dirawat.
Namun sebelum itu dia sudah memberi pesan ke temannya untuk mengantarkan barang itu kepada
Zainun. Setelah mendengar hal itu Zainun dan keluarga pun bergegas ke rumah sakit dimana Zahid
dirawat.

Unformatted Attachment Preview

[CERPEN] Untuk Inun Pada suatu hari di sebuah pinggiran kota, terdapat seorang kakak beradik bernama Zahid berusia 10 tahun dan Zainun yang berusia 8 tahun. Mereka berdua lahir dari keluarga yang miskin dan masih mengontrak. Akan tetapi karena tunggakan kontrakan yang sudah telat 4 bulan itu, maka Zahid anak laki-laki tertua dari keluarga tersebut harus membantu ibunya setiap hari yang bekerja sebagai buruh cuci baju milik tetangganya sepulang sekolah. Suatu ketika setelah menjahitkan sepatu milik adiknya Zainun di pasar, Zahid mampir ke warung Pak Safi karena disuruh ibunya membeli bahan masakan. “Pak Safi beeli,” kata Zahid sambil mengeluarkan kertas dari sakunya yang berisi daftar bahan masakan yang hendak dibeli. “Eh, Zahid mau beli apa?” kata Pak Safi menyapa Zahid layaknya konsumen lain. “Ini Pak,” kata Zahid sambil menyodorkan yang di beri Ibunya tadi. Setelah semua bahan masakannya dikemas rapi kemudian Zahid pun bergegas membawanya pulang karena tak sabar ingin memberikan sepatu yang sudah di jahit tadi kepada adik tercintanya yaitu Zainun. Pada saat membawa barang-barang belanjaanya tadi, Zahid terlihat terburu-buru lalu di tengah perjalan pulang tanpa sadar ia menjatuhkan sepatu hasil jahitan di tengah kerumunan orang-orang pasar. Pada saat yang sama ternyata ada pemulung yang sedang lewat dan ia langsung mengambil sepatu adiknya tersebut. “Tok tok tok,” Singkat cerita Zahid pun sudah sampai rumah dan dengan senyum bahagianya ia sudah lagi lagi tak sabar ingin memberikan sepatu adik tercintanya tersebut. Dan secara kebetulan yang membukakan pintu rumahnya adalah adiknya. Zainun merasa bahagia ketika kakaknya itu sudah sampai rumah dan ingin segera mencoba sepatunya yang sudah diperbaiki. Lalu ketika Zahid melihat kembali barang bawaannya, sang kakak pun terkaget karena sepatu adiknya yang sudah diperbaiki itu lenyap tidak ada lagi di tangannya. Zahid terlihat panik dan kebingungan. Menggeledah sana sini barang bawaannya kembali akan tetapi tidak bisa ditemukan. Walaupun sepatu adikknya itu sudah lusuh, butut, dan mungkin terlihat tidak layak dipakai lagi akan tetapi itu adalah satu-satunya sepatu yang ia punya. Sepatu itu yang setiap hari dipake Zainun untuk pergi ke sekolah. Kemudian terdengar isak tangis diantara keduanya. “Jangan katakan ini pada Ayah dan Ibu ya, aku janji akan menemukan sepatu itu lagi,” kata Zahid sambil menahan isak tangisnya. Lalu Zahid pun bergegas kembali ke pasar untuk mencari sepaatu adiknya itu. Di pasar, Zahid kesana kemari tak karuan mencari sepatu adiknya yang hilang tak tau dimana itu. Mulai dari bapak-bapak tukang sol sepatu yang sudah ia kunjungi, warung Pak Safi tempat dia membeli bahan masakan titipan ibunya tadi pagi tapi tak kunjung ia temukan. Kemudian dia juga memutari seluruh tempat tempat di pasar tapi jawabannya masih sama. Sambil menangis dia mencari dan terus mencari. Akan tetapi gelisahnya semakin menjadi jadi ketika satu satunya barang berharga milik adiknya tersebut sudah HILANG. Sesampainya dirumah Zahid terlihat lesu begitu juga dengan adiknya yang melihat kakaknya pulang. Seolah olah sudah tau jawaban apa yang hendak kakaknya lontarkan kepadanya. Namun adiknya tidaklah seorang pemarah. Dia merelakan satu satunya sepatunya itu hilang. Pada saat mereka diam dalam kebingungannya, Zahid sang kakak mempunyai ide untuk bergantian menggunakan sepatunya untuk sekolah. Singkat cerita, hari demi hari mereka lalui dengan bergantian menggunakan sepasang sepatu milik Zahid sang kakak. Setelah pulang sekolah Zainun berlari dengan cepat untuk memberikan sepatunya kepada kakaknya karena jam pelajaran mereka berdekatan. Sang kakak pun sering datang terlambat oleh karena hal itu. Sampai suatu ketika pada saat Zainun pulang sekolah, tak sengaja sepatu yang ia pakai copot dan jatuh kedalam selokan yang berisi genaangan air yang mengalir. Karena hal itu, Zainun harus berlarian mengikuti arus air dan sesegera mungkin mengambilnya. Karena peristiwa itu, lagi dan lagi Zahid harus terlambat masuk kelas. Namun, sekarang dia dimarahi dan berurusan dengan kepala sekolah karena ketahuan terlambat. Disitu Zahid pun dimarahi habis habisan dan meminta esok pagi untuk menyuruh orang tuanya datang kesekolah. Akan tetapi, dia terlselamatkan tatkala ada seorang guru yang menghampiri mereka berdua dan meminta kepala sekolah untuk memaafkan Zahid karena di kelas dia tergolong murid yang cukup pintar. Suatu hari, ketika Zahid hendak pulang sekolah dia tak sengaja melihat pengumuman di mading sekolah. Disitu dia melihat bahwa akan akan ada pelombaan lari marathon tingkat sekolah di daerah mereka. Zahid yang tak ada pengalaman dalam perlombaan lari itu dan bahkan sama sekali tidaak mengikuti seleksi mendadak semangat ketika melihat hadiah yang akan dia dapatkan jika dia berhasil menjuarai perlombaan tersebut. Hadiah itu selain piala dan medali, dia juga akan mendapatkan sepasang sepatu olahraga. Oleh karena hal itu iya datang ke ruangan guru olahraganya dan memohon untuk diikutsertakan dalam perlombaan itu. Dengan menangis dia terus saja memohon sampai guru tersebut mengizinkan dia untuk berlomba. Lalu akhirnya dengan pasrah guru itu pun mengizinkan Zahid untuk ikut dalam perlombaan itu. Tentu saja dia sangat bahagia dan bergegas pulang untuk memberi tahukan hal itu kepada adik tercintaanya itu. “Tok tok tok,” tiba tiba ada tamu yang mengetuk pintu rumah keluarga Zainun. Zainun yang sudah biasa membukakan pintu untuk tamu itu pun langsung bergegas menghampiri. Ternyata tamu itu adalah salah satu teman Zahid yang ikut dalam perlobaan lari marathon. Dia membawa sebuah barang kotak yang terbungkus rapi. Lalu dihadapan keluarganya, Zainun pun bergegas membuka kotak tersebut. Namun diluar kotak itu terdapat sesobek kertas. Karena penasaran, Zainun pun membukanya sebelum melihat isi kotak tersebut. Tulisan itu bertuliskan “Untuk Zainun, Adikku yang paling tersayang Maafkan aku sudah menghilangkan satu satunya barang berhargamu. Aku tahu bahwa barang itu sangat berarti bagimu. Tapi karena keteledoran kakakmu ini, kamu harus kesusahan karena harus berlarian setiap hari untuk bergantian sepatu denganku. Dan aku tau kamu juga sangat malu didepan temaan-temanmu karena menggunakan sepatu laki laki yang butut milik kakakmu ini. Aku tahu meski kamu tak mengungkapkan hal itu kepadaku. Ini adalah tanda permintaan maafku Yang menyayangimu Kak Zahid” Zainun dan keluarganya membaca surat itu sambil terharu. Ternyata surat itu dari Kakaknya Zahid yang berhasil memenangkan perlombaan. Surat itu sudah dia siapkan malam sebelum pertandingan. Barang itu diantar oleh temannya karena setelah perlombaan selesai Zahid sang kakak tiba tiba begitu kelelahan dan tak sadarkan lalu di bawa ke rumah sakit untuk dirawat. Namun sebelum itu dia sudah memberi pesan ke temannya untuk mengantarkan barang itu kepada Zainun. Setelah mendengar hal itu Zainun dan keluarga pun bergegas ke rumah sakit dimana Zahid dirawat. Name: Description: ...
User generated content is uploaded by users for the purposes of learning and should be used following Studypool's honor code & terms of service.
Studypool
4.7
Trustpilot
4.5
Sitejabber
4.4